Oleh: Hery | 16 Januari 2010

Bom Bali I Dipandang Dari Hubungan Antara Hati Nurani Dengan SuperEgo


Pengertian Terorisme

Terorisme lahir sejak ribuan tahun silam dan telah menjadi legenda dunia. Dalam sejarah Yunani kuno, Xenophon (430-349 SM) menggunakan psychological warfare, sebagai usaha untuk memperlemah lawan. Kaisar Roma, Tiberius dan Caligula, melakukan pembuangan, pengusiran, pengasingan, penyitaan hak milik dan eksekusi untuk memperlemah penantangnya.

Meskipun terorisme bukan masalah baru, namun sudah menjadi fenomena yang berkembang ke dalam suatu strategi tingkat tinggi. Beberapa kelompok kecil bangsa, dalam beberapa kasus, melakukan undeclared warfare kepada suatu negara secara tersembunyi. Dalam dunia modern sekarang, teroris telah bergerak sekaligus melakukan aksi pembunuhan dan peledakan bom dengan pola yang sangat sederhana. Sekarang, mereka memiliki kemampuan yang luar biasa, mereka mampu dalam sekejap mempersiapkan diri sendiri ataupun sekelompoknya menjadi mesin pembunuh yang potensial. Mereka dapat meluluhlantahkan gedung, sekaligus merenggut puluhan, ratusan bahkan ribuan nyawa.

Kategori kelompok terorisme

  • Nonstate-supported grup adalah kelompok kecil yang memiliki kepentingan khusus, seperti kelompok anti-aborsi, anti-korupsi dan sebagainya. Dalam aksinya mereka mem-blow-up permasalahan tersebut dengan melakukan pembakaran, penyandraan, ataupun aksi lain yang membahayakan individu lain dan kepentingan umum.

  • State sponsored grups adalah kelompok yang memperoleh pelatihan, senjata dan keperluan logistik dan dukungan administrasi dari negara asing.

  • State-directed grups adalah suatu negara yang mengorganisasi dukungan kepada kelompok teroris secara langsung.

Aksi terorisme modern berbeda dengan masa lalu. Sekarang aksinya mengakibatkan banyak masyarakat tak bersalah ikut menjadi korban. Aksi terorisme selalu mengikuti perkembangan zaman. Beberapa negara di dunia menyatakan diri perang melawan terorisme, tetapi teroris tetap hidup dan ancamannya semakin menakutkan.

Tak ada teroris di dunia ini yang masih beraksi setelah tercapainya tujuan akhir dari keinginannya, yaitu penggantian dan perubahan sistem politik. Dengan kata lain, munculnya terorisme disebabkan oleh rasa ketidakpuasan individu, kelompok, rezim, terhadap individu, kelompok, rezim yang menjadi lawannya.

Berikut adalah aksi teroris yang sering dilakukan :

  1. Demonstrasi: Dilakukan untuk menarik perhatian massa, dengan tujuan memberi kesan bahwa pemerintah yang sekarang kurang kredible. Banyak pengangguran dalam suatu negara, merupakan kemudahan dan keleluasaan bagi teroris dalam melakukan aksinya.
  2. Konfrontasi: yaitu membawa demonstran untuk dihadapkan pada barikade polisi atau pasukan keamanan.
  3. Perusakan, Pembakaran, Penjarahan: Merupakan kelanjutan dari konfrontasi, untuk memberikan kesan kondisi sosial dan politik masyarakat yang tidak stabil. Perusakan, pembakaran, dan penjarahan ditujukan kepada toko, pos polisi dan pusat-pusat perbelanjaan. Hal ini diharapkan akan menggangu kehidupan sehari-hari masyarakat.
  4. Kontamidasi Produk: Untuk mempengaruhi opini, agar masyarakat resah dan tidak lagi mengkonsumsi produk yang diisukan terkontaminasi tersebut. Contoh daging sapi yang dicampur daging babi, peredaran uang palsu dan sebagainya.
  5. Intimidasi: Dilakukan oleh elemen militer agar individu atau kelompok tersebut mengikuti keinginan teroris.
  6. Penyerangan Individu: Dilakukan untuk sekedar memberi peringatan kepada yang lain bahwa kelompok teroris tidak terkesan main-main.
  7. Aksi Terorisme: Lazimnya, dengan melakukan penyerangan, pembakaran, perampokan, dan pengeboman merupakan aksi yang secara bertahap dilakukan, dari sasaran yang ringan, kemudian meningkat.

Serangan teroris yang luar biasa memiliki maksud, yaitu mereka menginginkan tujuan akhir yang secara kumulatif berdampak besar, dan akibat aksi terorisme ini, akan memaksa pemerintah untuk menyerah sekaligus mengikuti tuntutan mereka dan membangkitkan kepanikan di dalam masyarakat.

Dengan aksi kekerasan, terorisme berusaha keras memberikan tekanan kapada rakyat, untuk menyetujui pergerakan ini, dan mengembangkan beberapa faktor yang relevan untuk menunjang kesuksesan mereka. Untuk maksud ini, target yang dipilih dengan perhitungan matang, adalah menciptakan efek yang dikehendaki, berikut.

  1. Menanamkan pengaruh yang kuat kepada pemerintah dan masyarakat tentang alasan mereka, dan meyakinkan kepada masyarakat atas keinginan dan kemampuan untuk mencapai tujuan melalui pergerakan ini.

  1. Membuat masyarakat mendukung alasan dan usaha mereka.

  1. Membuat pemerintah tidak efektif dan menggantinya dengan kekuasaan mereka.

  1. Menekan pemerintah untuk menggelar pasukan keamanan.

Pengertian Hati Nurani

Setiap manusia mempunyai pengalaman tentang hati nurani. Karena itu pengalaman tentang hati nurani merupakan jalan masuk yang tepat untuk mengenal etika. Dengan hati nurani kita mempunyai penghayatan tentang baik atau buruk yang berhubungan dengan tingkah laku konkret kita. Hati nurani-lah yang memerintahkan atau melarang kita melakukan sesuatu kini dan di sini. Tidak mengikuti hati nurani ini berarti menghancurkan integritas pribadi kita dan mengkhianati martabat terdalam kita.

Hati nurani berkaitan erat dengan kenyataan bahwa manusia mempunyai kesadaran. Hati nurani jugalah yang memberikan penilaian tentang perbuatan-perbuatan yang telah terjadi (retrospektif) atau tentang perbuatan yang akan terjadi (prospektif). Hati nurani juga bersifat personal, artinya, selalu berkaitan erat dengan pribadi bersangkutan.

Hati nurani selayaknya akal budi juga harus dididik. Karena hati nurani yang dididik dan dibentuk dengan baik, dapat memberikan penyuluhan tepat dalam hidup moral kita. Jadi, secara teoritis pendidikan hati nurani lebih sulit daripada pendidikan akal budi. Namun, Pendidikan hati nurani tidak membutuhkan sistem pendidikan formal, malah lebih baik berlangsung dalam rangka pendidikan informal, yaitu keluarga. Sedangkan pendidikan akal budi sulit untuk dijalankan di luar rangka pendidikan formal.

Hati Nurani Dan “Superego”

Hati nurani dan superego berbeda dalam etimologis, namun sering kali hati nurani dan superego dikaitkan dan bahkan keduanya disamakan begitu saja. Istilah superego berasal dari Sigmund Freud, ia mengemukakan istilah itu dalam rangka teorinya tentang struktur kepribadian manusia. Struktur Psikis manusia menurut Freud meliputi tiga instansi atau tiga sistem yang berbeda-beda. Ketiga instansi tersebut adalah Id, Ego dan Superego. Superego itu berhubungan erat dengan hati nurani.

Id, menurut Sigmud Freud adalah lapisan yang paling fundamental dalam susunan psikis seorang manusia. Id meliputi segala sesuatu yang bersifat impersonal atau anonim, tidak disengaja atau tidak disadari, dalam daya-daya mendasar yang menguasai kehidupan psikis manusia.

Lain halnya dengan istilah Ego, menurut Freud ego adalah perkembangan lebih lanjut dari Id. Aktivitas ego bisa sadar, prasadar maupun tak sadar. Tapi untuk sebagian besar ego bersifat sadar. Ego juga mengontrol apa yang mau masuk kesadaran dan apa yang akan dikerjakan. Akhirnya ego menjamin kesatuan kepribadian atau dengan kata lain mengadakan sintesis psikis.

Lain halnya dengan superego, ia adalah instansi yang memiliki susunan psikologis yang lebih kompleks. Superego adalah instansi yang melepaskan diri dari ego dalam bentuk observasi-diri, kritik-diri, larangan dan tindakan refleksi lainnya, pokoknya, tindakan terhadap dirinya sendiri. Aktivitas superego menyatakan diri dalam konflik dengan ego, yang dirasakan dalam emosi-emosi seperti rasa bersalah, rasa menyesal, rasa malu dan sebagainya.

Lalu dapatkah disamakan antara hati nurani dengan “superego”? disini dapat disimpulkan bahwa hati nurani berbeda dengan superego. Karena pada tahap superego baik sumber rasa bersalah maupun rasa bersalah itu sendriri bisa tetap tidak disadari. Sedangkan dalam konteks etis, hati nurani tentu hanya bisa berfungsi pada taraf sadar. Peranan hati nurani dalam hidup etis justru mengandalkan bahwa orang bersangkutan menyadari rasa bersalah dan ia tahu juga apa sebabnya ia merasa bersalah. Taraf sadar merupakan prasyarat supaya hati nurani bisa berfungsi dengan baik, karena selama tidak disadari tidak mungkin ia menjadi penuntun dan penyuluh di bidang moral.

Aksi Terorisme Di Indonesia

Indonesia sebagai negara yang majemuk dengan berbagai latar belakang suku, ras, agama tak dapat dipungkiri menjadi sasaran yang empuk bagi aksi terorisme. Sudah terhitung puluhan kali bentuk terorisme terjadi di Indonesia, entah dalam bentuk yang paling sederhana, sampai yang berbentuk paling kompleks. Entah dalam wujud separatisme, sampai dalam bentuk perlawanan terhadap negara-negara barat (khususnya Amerika dan Israel).

Yang paling banyak menyita perhatian dari serangkaian tindakan terorisme yang terjadi di Indonesia adalah aksi bom bunuh diri tahun 2002.  Tepatnya 12 Oktober 2008, di Bali meledak di luar Sari Club Diskotik, di jalan Legian, kawasan yang sibuk dan penuh dengan turis internasional. Kejadian tersebut menewaskan sedikitnya 187 turis mancanegara dan mencederai sekitar 300 orang. Kini 3 dari 4 pelaku yaitu: Amrozi, Imam Samudra, dan Muchlas telah diganjar hukuman mati. Sedangkan Ali Imron karena mengakui perbuatannya sebagai suatu kesalahan besar yang pernah ia lakukan maka pemerintah mengganjarnya dengan hukuman seumur hidup.

Bom Bali 1 Diantara Hati Nurani Dan Superego

Menarik, itulah kata yang dapat menggambarkan fenomena bom Bali 1. Peristiwa kurang lebih 6 tahun lalu masih hangat untuk dibicarakan secara mendalam apalagi beberapa hari kebelakang akhirnya 3 dari 4 pelaku diganjar hukuman mati. Disinilah seharusnya kita mempertanyakan apakah amrozi cs masih mempunyai hati nurani atau dengan kata lain menyesal atas tindakan yang telah dilakukan? Dan ataukah justru mereka mempunyai hati nurani karena perbuatan yang telah dilakukan oleh amrozi cs adalah perbuatan yang didasarkan kepada perbuatan “jihad” sebagai bentuk perlawanan kepada Amerika dan negara sekutu?

Untuk diketahui saja, tindakan yang melatarbelakangi Amrozi cs dalam aksi bom bali satu adalah suatu bentuk “jihad” menurut mereka. Perbuatan yang mereka lakukan adalah sebagai bentuk perlawanan yang ditujukan kepada Amerika dan negara sekutu dan sebagai serangan balasan atas tindakan Israel terhadap saudara mereka sesama muslim yang ditindas di Palestina dan negara di timur tengah. Dengan serangan bom tersebut mereka berharap akan mati syahid dalam membela agama islam. Jadi mereka membenarkan membunuh manusia lainnya yang bukan islam dan menganggap perbuatan itu adalah jihad. Dan sampai akhir hayatnya Amrozi, Imam  Samudra dan Muchlas tetap menganggap bahwa perbuatan mereka adalah benar.

Berbeda dari yang terjadi dengan Amrozi cs (Amrozi, Imam Samudra dan Muchlas), Ali Imron yang juga menjadi tersangka dalam kasus peledakan di Bali menunjukkan perasaan menyesal pasca ledakan bom bali satu, ia juga menyatakan bahwa tindakan yang ia lakukan bersama Amrozi cs adalah kesalahan besar dalam menafsirkan kata “jihad”.

Apa yang dilakukan oleh Amrozi, Imam Samudra dan Muchlas, menurut saya adalah suatu perilaku yang menyimpang dari hati nurani. Dalam psikiatri dibicarakan tentang moral insanity: yaitu kelainan jiwa yang membuat orang seolah-olah “buta” di bidang etis, sehingga tidak bisa membedakan antara baik dan buruk. Orang seperti Amrozi, Imam Samudra dan Muchlas adalah orang yang bisa melakukan pembunuhan, pengerusakan dll tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dan biasanya perilaku moral insanity adalah akibat dari hati nurani dalam keadaan tumpul atau karena salah didik.

Saya melihat justru perilaku yang dilakukan oleh Amrozi, Imam Samudra dan Muchlas adalah bentuk dari perilaku superego. Yang oleh Sigmud Freud, superego dibentuk selama masa anak melalui jalan internalisasi dari faktor-faktor represif yang dialami subjek sepanjang perkembangannya. Perintah jihad, didalam Al-Quran di interpretasikan salah atau karena proses brainwash, yang oleh mereka dianggap benar sebagai suatu cara yang menghalalkan pembunuhan dan perbuatan lain yang tidak sejalan dengan rasio manusia hanya kepada agama non-Islam. Sehingga yang terjadi perintah jihad itu diterima sepenuhnya oleh subjek tanpa proses mengkritisi, hingga akhirnya terpancar dari dalam diri subjek. Pada tahap superego baik sumber rasa bersalah maupun rasa bersalah itu sendiri bisa tetap tidak disadari.

Namun berbeda dibandingkan dengan keadaan yang dialami oleh Ali Imron. Karena dalam diri Ali Imron, hati nurani ber-retrospketrif dengan memberikan penilaian tentang perbuatan-perbuatan yang telah berlangsung di masa lampau. Hati nurani seakan-akan menoleh kebelakan dan menilai perbuatan-perbuatan yang sudah lewat. Hal inilah yang terjadi oleh Ali Imron, setelah ia melakukan pemboman, hati nuraninya memberontak dan menghukum dia. Sehingga ia mengalami a bad consider, yaitu perasaan gelisah dalam bathin yang berkepanjangan sehingga memaksa dia untuk mengungkapkan pengakuan bahwa tindakan pemboman atau tindakan terorisme yang telah ia lakukan bersama ketiga terpidana lain adalah sesuatu tindakan yang salah.

DAFTAR PUSTAKA:

K.Bertens. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.

S.Adjie.terorisme. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005.

Koran Tempo yang membahas berbagai hal tentang bom bali I


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: