Oleh: Hery | 4 September 2010

Remah-Remah Kaca

Ujung pena ini mungkin tahu kapan waktunya untuk menerka jeda.

Tapi kerinduan ini tidak pernah tahu kapan waktunya harus meredam rasa.

Senja ini mungkin tahu kapan saatnya menyapa malam.

Tapi gelisah ini tidak pernah tahu kapan saatnya sempatkan tanya.

Angin pagi…

Beton langit…

Haluan semesta…

Aku ingin mengalun sendu.

Di atas remah-remah kaca di mata mu.

membanjiri deras cahaya mu hingga membasahi separuh sayat luka ku.

Aku ingin mati sekali.


Tanggapan

  1. nulis lagi doong her,heheeee, pada ga idup deh ni blog orang2

    • hahaha…iya nih udh lama gak nulis. nyok sama-sama nulis.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.