Oleh: Hery | 24 November 2012

Pria Juga Butuh Obat Ganteng

Penampilan adalah hal yang paling mutlak di era modern sekarang ini. Penampilan merepresentasikan kepribadian personal, gaya hidup, kelas sosial yang bisa menunjang urusan karir, status, gengsi sampai ke urusan asmara. Yess, pentingnya urusan penampilan inilah yang membuat produsen produk-produk kecantikan menawarkan berbagai rangkaian produk perawatan dari ujung rambut sampai ujung kuku untuk kaum ladies.

Eitsss, tapi jangan salah loh ternyata urusan perawatan tubuh bukan saja jadi dominasi kaum hawa! Kaum adam juga gak mau ketinggalan untuk soal perawatan tubuh, rangkaian perawatan kegantengan ‘obat ganteng’ yang ada di pasar banyak yang khusus di tujukan untuk pria yang ingin tampil prima dalam urusan penampilan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Hery | 30 April 2012

Terima Kasih Untuk Kesempatan Ke-23

Hari ini tidak ada lilin, tidak ada kue dan kejutan lainnya. Hari ini seperti biasa, seperti hari-hari saya yang begitu saja berlalu. Seketika saya membuka mata dan menutupnya kembali masih seperti biasa. Tapi di hari ini Senin, 30 April saya sempatkan untuk menyelipkan rasa syukur saya kepada hidup saya yang begitu amat sederhana. Terima kasih Tuhan saya masih diberikan kesempatan ke-23.

Hidup bukan soal apa yang kita miliki, tapi soal menjalani hidup dengan kesungguhan hati. Lihat saja saya, tidak berbeda jauh dengan empat tahun kebelakang. Saya masih saja seperti empat tahun lalu, belum punya apa-apa dan belum mampu membahagiakan siapa-siapa. Tapi terima kasih Tuhan saya masih diberikan kesempatan untuk mencoba. Paling tidak mencoba berarti untuk orang-orang di sekeliling saya yang saya cintai. Saya ingin buat mereka bangga.

Gambar

Oleh: Hery | 4 Februari 2011

Fenomena Mati Suri

Berdasarkan Pengertian Klinis kematian adalah henti nafas (tidak ada gerak nafas spontan) ditambah henti sirkulasi (jantung) total dengan semua aktivitas otak terhenti, tetapi tidak ireversibel. Kematian adalah kepercayaan Universal dimana manusia secara umum mempunyai suatu kepercayaan spontan terhadap kematian. Kepercayaan itu terdapat pada semua bangsa, bahkan yang paling kuno. Hanya manusialah yang membuat persembahan kepada yang mati dan menguburnya dengan cara-cara khusus. Beberapa suku tertentu bahkan menyediakan alat-alat dan makanan bagi orang yang telah meninggal karena percaya bahwa mereka dapat menggunakannya. Kepercayaan itu mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan tentang pahala dan dosa sesuai dengan perilaku orang yang telah meninggal.

Manusia terdiri dari mind and body. Bila kematian terjadi, hubungan antara tubuh dan jiwa tentu saja tidak bertahan. Maka timbullah pertanyaan besar, mungkinkah manusia mengalami kehidupan bila kesatuan antara tubuh dan jiwa tidak terbentuk? pertanyaan tersebut mulai dapat dijawab dengan paham tradisional. Paham ini mendasarkan diri pada kekuasaan yang khas bagi jiwa, sebagai “roh”. Walaupun segala ide, putusan, dan kehendak kita yang biasa memerlukan gambaran-gambaran dan pengenalan melalui pancaindera agar bisa terwujud, namun ada semacam pengenalan yang tidak langsung memerlukan unsur-unsur itu yaitu pengenalan yang dimiliki oleh jiwa terhadap dirinya sendiri. Baca Lanjutannya…

Oleh: Hery | 4 Februari 2011

Freak Trip – Curug

hmm,…curug, curug! *sambil geleng-geleng. Itulah statement akhir gue setelah melakukan perjalanan wisata bersama empat orang galawers filsafat 07; Tika, tea, iqit, dan bang ganteng, richart losando.  Perjalanan yang susah lukiskan dengan kata yang tepat. Ketawa iya, miris iya, menyenangkan iya, capek iya, gudah gulana hmm bisa iya. Yang jelas keabsurdan kata bergabung menjadi satu dan berakhir dengan gelengan kepala 30 derajat ke kiri dan 30 derajat ke kanan.

Gue akan ceritakan kronologisnya. Begini ceritanya, alkisah di suatu hari yang galau, saat malam sedang gundah dalam tenang. Gue lagi online di twitter (kebiasaan anak muda jalan sekarang broo). Entah ada angin dari mana ketika sedang online bersama anak-anak panti galau (sebuah komunitas bentukan filsafat 2007) tiba-tiba tercetus ide untuk mengadakan jalan-jalan angkatan *cerita yang manis di awal*. Kemudian gayus pun bersambut *eh gayung deng*, kita SEMUA konon banyak yang bisa berpartisipasi dalam jalan-jalan dadakan tersebut. Maka oke lah, kita siap jalan, walaupun ada beberapa anak yang gak bisa ikut karena masih di luar kota. Baca Lanjutannya…

Oleh: Hery | 4 September 2010

Remah-Remah Kaca

Ujung pena ini mungkin tahu kapan waktunya untuk menerka jeda.

Tapi kerinduan ini tidak pernah tahu kapan waktunya harus meredam rasa.

Senja ini mungkin tahu kapan saatnya menyapa malam.

Tapi gelisah ini tidak pernah tahu kapan saatnya sempatkan tanya.

Angin pagi…

Beton langit…

Haluan semesta…

Aku ingin mengalun sendu.

Di atas remah-remah kaca di mata mu.

membanjiri deras cahaya mu hingga membasahi separuh sayat luka ku.

Aku ingin mati sekali.

Oleh: Hery | 30 Juni 2010

Foto Studio BPH PSA MABIM 2010

Akhirnya dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan YME kami BPH PSA MABIM 2009 resmi melakukan pembubaran. yah, walaupun tidak mewah-mewah amat tapi lumayanlah dapat melepaskan rindu. walaupun si Uka (PJ Perlap) gak bisa dateng karena ngajar, tapi acaramya tetep berjalan seru.

Kita semuanya ngumpul di Solaria, makan secukupnya dengan budget 40.000 ribu. Setelah itu kita langsung photo studio di Margo. Photo Studionya tanpa kehadiran Baim (PJ Disiplin) karena beliau langsung cabut dari Solaria dan kemudian asyik nyalon di Om Jonny.

ya sudah tanpa banyak cang-cing-cong, kita liat aja dah ini photo-photo studionya.

cekidottt bro!!!

Baca Lanjutannya…

Oleh: Hery | 30 Juni 2010

Sebuah Pembicaraan Sederhana…

Di suatu hari ketika senja sudah kembali ke peraduannya, dan larut mulai menyergap malam. Saat itu waku menunjukkan sekitar pukul 19:30, kami anak-anak DPM mulai beranjak pulang dari kampus. Sebuah kebiasaan bagi kami sebelum pulang dan meninggalkan aktivitas organisasi mampir dulu untuk makan malam. Malam itu diputuskanlah kami makan mie ayam di samping FISIP.

Kegiatan yang biasa dan sederhana diiringi oleh pembicaraan sederhana juga. Sampai pada sebuah topik pembicaraan  yang saya pikir cukup menarik. Ketika itu saya, hadi, hare, nufus dan bela, entah siapa yang memulai berbicara tentang “Apa yang kita rencanakan untuk masa depan kita”? “Apa yang anda lakukan setelah lulus kuliah”? dan berbagai pertanyaan tentang masa depan.

Mulailah kami satu per satu berceloteh tentang masa depan. Sebuah hal yang sederhana bukan..?

Pertanyaan pertama jatuh pada hadi, ia pun dengan sistematis menjawab…”setelah lulus gw akan bekerja industry televisi, membawakan acara yang bertemakan hal tentang makanan dan jalan-jalan (wisata dan perjalanan kuliner) setelah itu gw akan terjun ke dunia politik, ikut partai politik dan puncaknya adalah dengan menjadi menteri kebudayaan dan pariwisata.” Kurang lebih itulah gambaran tentang masa depan Hadi.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Hery | 30 Juni 2010

Organisasi itu…

Saya ingat sebuah obrolan ringan antara saya dengan seorang senior sekaligus teman ketika masih aktif di sebuah organisasi dakwah sekitar dua tahun yang lalu. Ketika itu saya masih mahasiswa baru dan masih mencoba-coba masuk ke kebeberapa organisasi termasuk organisasi yang bergerak di bidang dakwah.  Dalam bayangan saya organsisasi mahasiswa adalah organsisasi murni tempat pertaruhan ideologi dan dedikasi tentang komitmen. Sebuah kesempatan besar dimana saya ketika itu bertemu dengan rekan-rekan senior yang telah lama malang-melintang di dunia organisasi kampus dan saya dibeberapa kesempatan selalu sharing tentang kehidupan organisasi di kampus.

Seusai sholat dzuhur kami  duduk di pelataran Masjid UI. Hari itu saya lupa kita sedang membicarakan tentang apa, sampai senior saya tersebut menitipkan sebuah petuah kepada saya yang memang saya sadari perkataan tersebut ada benarnya setelah waktu berjalan dua tahun kemudian. Senior saya berkata kurang lebih seperti ini “sebenarnya dalam organisasi ada dua hal yang harus kita hindari, yang pertama adalah kecewa dan yang kedua adalah kecewe.”

Faktor kecewa merupakan hambatan dalam semua kegiatan organisasi, termasuk juga organisasi mahasiswa. Banyak rekan saya selama saya mengikuti organisasi di kampus pernah mengalami kekecewaan terhadap sebuah organisasi. Mereka yang dulunya aktif dan bahkan militan dalam sebuah organisasi kemudian berbalik menjadi pasif bahkan meninggalkan organisasi tersebut dan berubah 180 derajat. Biasanya, kekecewaan tersebut dilatarbelakangi oleh faktor ideologis. Bahkan hal ini pernah saya alami, ketika saya pernah ikut  sebuah organisasi tapi kemudian saya meninggalkannya di tengah jalan karena kekecewaan saya. Yah, balik lagi ini soal ideologis dan cita-cita utopis.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Hery | 3 April 2010

Karena Saya Belum Bisa Membagi

Jika saja waktu bisa saya bagi, mungkin saya adalah orang yang paling beruntung di dunia. Semua orang di dunia ini mendapatkan jatah waktu yang sama, 24 sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan setahun. Tapi bagaimana pengelolaannya itu tergantung tiap-tiap orang. Bila anda  menyaksikan tayangan motivator di tv maka motivator tersebut akan mengatakan “waktu adalah investasi”. Masa depan ditentukan oleh sikap dan tingkah kita masa kini.

Lalu aktivitas apa yang biasa saya lakukan? saya biasa melakukan: kuliah, organisasi, pulang malem, main internet, dan begitu seterusnya dari hari ke hari. Tidak ada prestasi atau dobrakan dalam hidup. Pengelolaan waktu yang buruk serta sifat saya yang masih abai segala tugas-tugas. Flat dan bosan rasanya. Lalu masa depan seperti apa yang akan saya dapatkan? saya masih belum tahu. Takut membayangkan masa depan apa yang akan menimpa saya karena tingkah laku saya di masa kini.

Bila diibaratkan waktu adalah pedang, sekarang pedangnya sudah sampai di ubun-ubun. Tinggal tunggu aba-aba sampai pedangnya mengoyak isi kepala saya.  cussss….

Jika waktu dapat diputar ulang ke belakang. Saya berharap dapat kembali ke masa lalu dan berharap bahwa  dapat menjadi orang yang dapat membagi waktu. Atau paling tidak berharap saya dapat menjadi orang yang dapat membagi waktu suatu saat nanti.

Oleh: Hery | 28 Maret 2010

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Biasa

Aku ingin mencintaimu dengan biasa.

Bukan seperti kesempurnaan matahari yang menyinari  bumi dengan terang.

Tetapi, aku ingin mencintaimu seperti keterbatasan lilin yang menerangi tepi kemudian redup ditelan temaram.

Aku ingin mencintaimu dengan biasa.

Bukan seperti keanggunan mawar yang hadir abadi di taman firdaus.

Tetapi aku ingin mencintaimu seperti belukar yang terijak semu lalu mati berkubang nista.

Older Posts »

Kategori