Oleh: Hery | 8 Februari 2009

Filsafat Menghidupkan Atau Membunuh Agama


philosophy_brain1Filsafat dan filsuf berasal dari bahasa yunani yaitu “philosophia” dan “philosophos” yang berarti pecinta kebijaksanaan. Filsafat hadir pertama kali di zaman yunani kuno didasarkan atas dasar kesangsian atas segala sesuatu. Filsuf pertama dipelopori oleh Thales, yang melakukan kesangsian atas penciptaan alam. Ia membuat kesimpulan berdasarkan hasil perenungan filosofis, bahwa prinsip alam semesta adalah air dan jagat raya ini memiliki jiwa.

Faktor lahirnya filsafat adalah melalui kesangsian atas banyaknya mitos-mitos yang hadir mewarnai kehidupan masyarakat Yunani kuno waktu itu. Banyak peristiwa dan fenomena alam yang dikaitkan dengan cerita tentang dewa-dewa, yang sifatnya tidak rasional. Oleh dasar itulah filsafat hadir justru bertujuan untuk memanusiakan manusia, menghargai pemikiran manusia yang sifatnya rasional dan logis serta mengeleminasi segala sesuatu yang sifatnya irasional dan tidak logis.

Sifat filsafat yang radikal, integral, universal serta kritis mendorong akal-budi manusia berkembang untuk menjawab segala persoalan yang meliputi manusia. Filsafat seakan hadir sebagai pembebas manusia dari kungkungan mitos-mitos. Filsafat juga menjadi dasar lahir dan berkembangnya berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi perkembangan manusia, seperti: ilmu hitung, ilmu perbintangan, ilmu retorita dan berbagai ilmu pengetahuan lain.

Masa kejayaan filsafat di Yunani Kuno pun harus menemui abad pertengahan/ masa kegelapan (dark ages) di eropa sekitar abad ke-4 sampai abad ke-14. Di zaman ini para pemimpin gereja dan agamawan melakukan dominasi terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan. Dominasinya terlihat dari pemikiran para filsuf yang didominasi tema tentang Tuhan, agama, dan ajaran-ajaran Aristoteles. Di sini filsafat digunakan sebagai budak untuk melegalkan ajaran agama, terutama ajaran agama Kristen waktu itu.

Yang menjadi masalah adalah ketika ditemukan ajaran-ajaran yang tidak bertemakan agama ataupun bertentangan dengan ajaran Aristoteles maka pihak gereja tidak segan-segan untuk menghukum mati orang yang melanggar. Seperti Copernicus yang dijatuhi hukuman mati ketika mengemukakan ajaran tentang Heliosentris, dan sialnya ajaran tersebut bertentangan dengan ajaran Aristoteles yang dijadikan dasar ajaran gereja-gereja Kristiani.

Oleh karena itu setelah abad pertengahan (masa renaissance) di eropa, banyak orang yang melakukan sekularisasi terhadap ajaran agama. Ajaran agama yang tadinya mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia kini hanya menjadi ajaran rohani semata. Mereka seakan muak terhadap para penguasa yang menggunakan ajaran agama sebagai legitimasi terhadap kekuasaannya. Serta kemuakan mereka terhadap berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh pihak gereja, seperti: penimbunan kekayaan dengan menjual surat penanggungan dosa, menindas rakyat dengan dalih ajaran agama, serta berbagai penyimpangan lainnya yang menjadikan rakyat semakin tertindas

Akibat kebencian yang sangat mendalam terhadap ajaran agama, muncullah berbagai pemikiran seperti: sekularisme, humanisme, eksistensialisme, dan naturalisme yang mengemban cita-cita untuk kembali mengangkat harkat derajat manusia yang ditindas oleh agama. serta kembali menggali kembali ilmu pengetahuan dan filsafat yang di abad pertengahan dikuasai oleh oknum-oknum gereja, kini menjadi milik seluruh umat manusia. Bahkan di abad modern, setelah renaissance bermunculan pemikiran ateisme seperti: Karl Marx, Nietzsche, Sigmund Freud, dan masih banyak lagi. Para pemikir tersebut berupaya menghapuskan peran agama di dalam kehidupan manusia. Dalam pemikiran Marx Agama adalah candu masyarakat, jadi agama merupakan bentuk pelarian manusia terhadap realitas.

Begitu pula pemikiran Nietzsche, untuk menjadi manusia yang super, Tuhan harus dibunuh. Karena Tuhan membuat manusia menjadi kerdil dan tidak berdaya. Lain halnya dengan pemikiran Sigmund Freud, dalam pemikirannya ia memberikan argument bahwa Tuhan merupakan perwujudan sosok manusia terhadap sosok ayah. Oleh karena itu Tuhan selalu digambarkan dengan sosok laki-laki. Jadi dengan upaya manusia mendekatkan diri kepada Tuhan, merupakan upaya yang dilakukan manusia agar terhindar dari amarah sosok ayah.

PENOLAKAN BERBAGAI PIHAK TERHADAP FILSAFAT

Banyak kalangan saat ini memiliki fobia terhadap filsafat, dikarenakan alasan-alasan yang tidak rasional dan tidak logis. Banyak dari mereka menganggap bahwa orang yang telah belajar filsafat akan menjadi gila/ tidak waras atau sekurang-kurangnya mengalami stress yang akut akibat pelajaran filsafat yang dianggap orang awam terlalu berat. Penolakan dari pihak agamawan pun ikut mewarnai, para agamawan pun setali tiga uang dengan pandangan masyarakat. mereka berpendapat ilmu filsafat harus dilarang karena akan mengakibatkan orang meninggalkan ajaran agama dan menjadi atheis.

Fenomena tersebut merupakan akibat dari mereka tidak mengerti (uninformed) atau  menyalahpahami (misinformed) terhadap ilmu filsafat. Permasalahan tersebut pernah dijawab oleh filsuf islam yang bernama Al-Kindi. Ia berpendapat bahwa orang yang menolak atau menganggap ajaran filsafat sebagai ilmu sesat adalah termasuk orang yang kafir. Hal tersebut dikarenakan bahwa agama dan filsafat sama-sama membawa kebenaran, dan orang yang menolak kebenaran dapat dikatakan orang kafir.

PENOLAKAN TERHADAP AJARAN AGAMA

Pemikiran atheisme yang muncul di eropa setelah renaissance, merupakan wujud kekecewaan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pihak gereja. Ketika itu para pemimpin kristiani mempunyai harta yang berlimpah ruah sedangkan rakyat hidup miskin kekurangan. Para rakyat dipaksa untuk bekerja keras dan hidup susah dengan anggapan bahwa dengan mereka akan menjadi penghuni surga kelak di akhirat. Sedangkan yang terjadi adalah tenaga rakyat diperas hanya demi kepentingan para pemimpin gereja dan para penguasa.

Kini bila diajukan pertanyaan, bila ajaran agama tidak diselewengkan oleh para pemimpin gereja dan para penguasa, apakah pemikiran atheisme akan muncul di eropa? jawabannya adalah tidak. Pada kenyataanya justru agama mampu memberdayakan rakyat baik dalam jasmani maupun rohani. Jadi bisa ditarik kesimpulan pemikiran atheisme merupakan kesalahan pandangan orang atheis atas ajaran agama.

FILSAFAT MENGHIDUPKAN AGAMA

Agama membutuhkan filsafat. Premis itulah yang bisa diajukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Agama selain membutuhkan keimanan juga membutuhkan akal budi sebagai dasar keyakinan. Orang yang tidak mendasarkan keyakinannya kepada akal budi dapat terjerumus kepada dua hal: (1) bila ia terlalu fanatik terhadap agama, ia dapat melakukan apa saja untuk membenarkannya, seperti melakukan pembunuhan, pemerkosaan, pencurian sampai tidakan teroris (2) bila ia belajar agama tanpa akal budi ia sama saja belajar tanpa menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin saja tipe orang ini akan mudah terguncang keimanannya bila menghadapi berbagai rintangan. Misal: orang yang rajin ibadah akan mudah mengakhiri hidupnya bila mendapat masalah yang sulit.

Oleh karena itulah filsafat hadir sebagai bentuk penghargaan terhadap manusia dan upaya memanusiakan manusia. Ketika manusia mempelajari agama maka ia wajib menggunakan akal budinya sebagai dasar keimanan dan keyakinan. Karena didalam ajaran agama memberikan ruang bagi manusia untuk melakukan penafsiran-penafsiran logis. Sehingga orang yang mempelajari filsafat tidak akan sia-sia dalam menjalankan ajaran agama dalam implementasinya dikehidupan sehari-hari.

Copyleft 9 Juni 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: