Oleh: Hery | 8 Februari 2009

KABUT SENJA DI BUKIT KASIH


The Love

Sinar matahari bersemi tampak dari arah timur, udara mengalir tenang menyambut lembut. Deretan bunga berjajar rapi dengan harum yang merebak hingga merasuk hati. Suara cipratan air hadir dari sungai yang membelah deretan bunga. Kulihat dari arah balik deretan bunga itu tampak dua orang lawan jenis sedang berkejar-kejaran. Terlihat senyum dan bahagia yang amat dalam melekat pada diri mereka dan kini mereka sedang bercengkrama di sebuah bukit yang hanya memiliki satu pohon yang menjulang ke atas. Aku tak tahu apa jenis pohon itu tapi yang kulihat mereka tampaknya telah larut dalam suasana bahagia yang seakan abadi untuk selamanya. Terasa angin berhembus membawa kelopak dan daun bunga sehingga kelopak dan daun bunga tersebut menghujani mereka berdua. Bagaikan pangeran dan sang permaisuri di cerita-cerita dongeng. Aku pun tampak menikmati polah mereka berdua, dan ketika mereka sadar akan kehadiranku tampak sang wanita dan kemudian diikuti sang pria melambaikan tangan mereka padaku. Seketika aku merasakan kedamaian yang amat dalam.

*****

Pagi harinya aku terbangun dengan segar dan penuh gairah. Kubuka daun jendela di sisi kanan dari tempat tidurku. Semilir angin bertiup kearah wajahku begitu aku membukanya, dan seketika aku disuguhi oleh pemandangan yang memikat mataku. Kulihat sinar matahari pagi tampak mulai menyinari sebagian dari deretan perbukitan dan pohon-pohon di sekitarnya. Petak-petak pematang sawah berwarna kuning yang terhampar luas di depanku kian menambah rasa takjub. Kabut tipis yang mulai memudar dan sinar yang matahari yang menerobos ke kabut itu makin menambah keindahan. Juga suara burung-burung khas pedesaan kian menambah kenyamanan hati. Kusapu pandanganku dari arah utara ke selatan dan kuakhiri pandangan kepada sebuah bukit dengan satu pohon yang menjulang di atasnya.

“Rasanya aku begitu mengenal bukit itu, rasanya bukit itu amat dekat denganku.’’ bisikku dalam hati.

“akh… mungkin hanya perasaan saja’’ hiburku kepada diri sendiri.

Tok…Tok, “Nak, bangun sudah pagi, ayo sarapan’’ suara perempuan setengah baya yang kukenal bernama Bibi Irma. Ia masih saudara denganku, kira-kira masih satu keturunan eyang kakung, lebih jelas lagi bibi Irma adalah anak dari adik nenek.

“Iya Bi, aku sudah bangun, nanti aku menyusul. Aku masih membereskan kamar’’ jawabku dari dalam kamar.

“Bibi tunggu ya dibawah’’ sahutnya yang kemudian disusul dengan suara decitan anak-anak tangga. Kemudian suasana sesaat hening. Yang ada adalah siulan-siulan burung-burung menyambut pagi.

*****

Sesampainya dibawah aku langsung disuguhkan dengan sepiring nasi goreng dengan segelas teh dan tidak lupa ditemani pisang goreng yang masih hangat di atas meja makan. Aku langsung duduk disebelah kanan meja makan, dekat dengan dapur tempat bibi berkutat dengan peralatan sehari-harinya.

“Paman Sukma mana Bi ?’’ tanyaku membuka percakapan.

“Oh Pamanmu sudah ke sawah, dia sibuk karena sekarang musim panen.’’ jawab bibi yang tampak sibuk menggoreng sesuatu.

“Oh iya nak, kamu sudah izin dengan ayahmu untuk menginap?’’ tanya bibi.

“Sudah Bi, sejak dua hari yang lalu aku sudah izin sama ayah. Waktu itu kan Bibi sedang pergi ke kampung sebelah untuk pengajian. Maaf Bi, baru kasih tau sekarang.’’ jawab ku Sambil kusendok nasi goreng hangat dan mendekatkannya ke mulutku. Aku tak ingin bibi tau tentang masalahku yang membuat aku memutuskan untuk menginap di sini. Aku tak ingin merepotkan Bibi dengan masalahku.

“Oh ya sudah kalo begitu…, nanti takutnya kamu belum izin lalu Ayah dan Ibumu khawatir dengan mu.’’

Suasana kembali tenang, Bibi sibuk dengan pekerjaannya di dapur dan aku pun sibuk menghabiskan hidangan yang ada di depanku. Setelah itu kututup dengan menghirup aroma teh manis hangat buatan bibi dan kuminum pelan-pelan teh itu.

Aneh pikirku, kenapa sejak menginap dirumah bibi irma dan paman sukma kenapa aku mimpi hal yang sama selama tiga hari berturut-turut. Juga keberadaan bukit dengan pohon yang menjulang itu, aku merasakan bukit itu amat kukenal tapi kan aku belum pernah ke sana.

“Bi, tau bukit yang ada di selatan desa ini? itu loh… bukit yang hanya punya satu pohon yang menjulang ke atas. Bukit itu indah ya Bi ?” tanya ku pada Bibi.

“Iya tau, bukit itu bernama Bukit Kasih, bukit yang indah, namun tak seindah kisah cinta yang beredar tentang bukit itu”. Jawab bibi yang kini telah menyelesaikan pekerjaannya dan kini ia pun mengambil kursi tepat di hadapanku.

“Kisah cinta apa Bi” tanyaku antusias.

Kini wajah Bibi menunjukan mimik yang serius. Sesambil Ia meminum teh hangat yang ia tuang dari teko dan sesekali ia menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian bercerita.

“Dulu ada kisah tentang dua sejoli yang sedang di rundung cinta. Sang wanita mempunyai wajah yang cantik mempesona, Tak ayal ia menjadi bunga desa di daerah ini. Oleh karena itu banyak pria dari orang yang biasa-biasa saja sampai orang yang kaya raya, tergila-gila dengan kecantikan sang wanita. Namun hanya seorang pria yang dapat meluluhkan hatinya. Pria itu mempunyai rupa yang tampan namun pria itu tidak kaya. Mereka pun banyak menghabiskan waktu untuk memadu kasih di bukit itu” Cerita Bibi sambil sesekali meminum teh hangat yang ada di genggamannya, Kemudian Ia melanjutkan lagi.”

“Sampai suatu ketika sang pria memutuskan untuk pergi mengembara dengan sebelumnya mereka berikrar untuk saling setia. Sang pria pun berjanji di atas bukit itu ia akan kembali dalam dua tahun untuk melamar sang gadis. Sang gadis pun memenuhi hari demi hari dengan menunggu sang pria menepati janjinya. Namun setelah hampir empat tahun ia menunggu tanpa kejelasan kabar dari sang pria serta desakan orang tuanya yang terus saja memaksa untuk menikah dengan saudagar kaya karena terikat hutang, akhirnya membuat sang gadis untuk memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di pohon yang ada di bukit kasih. Untuk mengenang peristiwa itu jenazah sang gadis dimakamkan tepat di sebelah Bukit Kasih.” Cerita Bibi sambil sesekali kulihat matanya berkaca-kaca.

“Lalu bagaimana dengan sang pria?”

 

“Sang pria tanpa diduga kembali satu tahun setelah kematian sang gadis. Pria itu terlambat datang karena ia jatuh sakit di negeri rantau. Namun setelah ia mendengar kabar dari para tetangga tentang sang pujaan hati, betapa terpukul perasaannya. Rasa bersalah tampak meliputi seluruh kehidupannya, pria tersebut akhirnya memilih untuk menghabiskan seluruh sisa umurnya di Bukit Kasih. Konon Ia juga menulis seluruh rasa sesalnya dan rasa cintanya kepada sang gadis dalam sebuah puisi. Kemudian ketika ajalnya tiba ia memilih agar jasadnya dikuburkan tepat di sebelah pohon itu dan berdampingan dengan makam sang gadis.”

“Lalu tentang pohon yang menjulang di atas bukit itu?’’ tanyaku antusias pada cerita Bibi.

“Para warga menyebutnya dengan pohon asmorobangun, yang dalam bahasa jawa berarti membangun asmara. Para warga mengartikan pohon itu sebagai lambang penyatuan cinta, agar jiwa mereka tetap menyatu sampai akhir zaman walaupun tubuh mereka sudah tiada. Bibi juga tidak tahu banyak tentang jenis pohon yang ada di Bukit Kasih namun dengan adanya keberadaan pohon dan bukit itu, banyak kaula muda dari kampung ini dan kampung tetangga yang sedang kasmaran berkunjung kebukit tersebut. Entah sekedar berkunjung atau ada maksud lain Bibi tidak mengerti”

“Jika saja gadis itu lebih bersabar dan tidak memutuskan untuk bunuh diri, Jika saja sang pria memenuhi janjinya kepada gadis itu agar datang tepat waktu. Apakah itu bisa disebut cinta, bi?” tanyaku kritis pada bibi.

“Yah… cinta mempunyai bahasanya sendiri, bahasa yang tidak akan bisa dituangkan dengan kata-kata mutiara atau diekspresikan oleh puisi-puisi romantis dari pujanggawan. Mungkin dari kejadian ini dapat diambil satu hikmah yang dalam.” Jawab bibi bijaksana.

Sejenak suasana terasa hening seketika, kurasa bibi sedang membayangkan atau meresapi cerita tersebut, begitu juga aku. Sungguh tragis yang namanya cinta pikirku, banyak orang rela berkorban demi yang namanya cinta entah karena memang cinta membutuhkan pengorbanan atau memang cinta itu sendiri merupakan pengorbanan. Orang memang membutuhkan cinta dalam kehidupannya namun ketika cinta itu disalah gunakan demi kepentingan nafsu semata, ya… seperti di katakan seorang filsuf bernama Al-Kindi, sisi lain cinta itu justru bisa membakar dan membunuh seseorang.

Tiba-tiba keheningan itu pecah, “Assalamualaikum,” sahut seorang anak yang kukenal bernama Sari. Dia adalah anak bibi Irma, usianya sekitar 10 tahun. Sari adalah anak satu-satunya bibi Irma, oleh karena itu bibi amat sangat menyayangi Sari.

“Wa’alaikum salam.” jawabku dan bibi hampir berbarengan.

“Kok, pulangnya cepat?’’ tanya Bibi setengah curiga.

“Iya Bu, ada rapat guru mendadak, jadi pulang cepet deh,” kata Sari lugu. Sambil ia mencium tangan ibunya dengan penuh kasih sayang selanjutnya mencium tanganku.

“Oh iya kak, besok temenin sari ya…, ada tugas melukis alam dari pak guru,” pinta Sari padaku.

“memang mau melukis di mana?”

“Di Bukit Kasih”

“Oh… ya udah, nanti kakak temenin, lagian kakak juga penasaran ingin kesana” jawabku diiringi senyuman renyah dari bibir Sari pertanda kegirangan.

*****

Malamnya aku mimpi hal yang serupa lagi, aku melihat dua insan yang sama. Yang saling berkejar-kejaran di deretan bunga dan suara gemericik air pun seakan mengiringi langkah kaki mereka. Aku melihat mereka tengah sibuk bercengkrama satu sama lain. Terlihat mereka saling melemparkan senyum, sang wanita meletakkan kepalanya di bahu sang pria dan sang pria asyik membelai rambut sang wanita yang panjang lagi pirang. Angin pun berhembus membawa wewangian harum bunga hingga merebak ke segala arah. Terasa damai suasananya, kulihat mereka berdua bangkit kemudian sang pria yang mengambil kotak kecil yang ada dipangkuannya sesaat setelah itu mereka menguburkan kotak itu dekat pohon yang menjulang, Tepatnya di sebelah kanan pohon. Kemudian setelah sadar akan kehadiranku, mereka melemparkan senyuman serta lambaian mesra. Seketika kedamaian langsung meliputi tubuh dan jiwaku.

*****

 

Pagi harinya kami bersiap ke Bukit Kasih, kepergianku dengan Sari dilepas oleh Bibi Irma dan Paman Sukma. Kami berdua berjalan beriringan, untuk pergi ke Bukit Kasih, tak lupa kami membawa bekal makan siang yang diberikan bibi Irma. Pesan Bibi Irma padaku adalah agar di perjalanan lebih hati-hati dan agar menjaga Sari dengan baik, walaupun Sari sudah sering kesana. Menurut Sari sebenarnya letak bukit kasih tidak terlalu jauh, sekitar dua kilometer, namun karena Sari lebih tau dan sering ke sana, perjalanan kami tidak sampai dua kilometer.

Kami melewati pematang sawah, kulihat para petani sibuk untuk memanen padi-padi mereka yang telah menguning. Para ibu pun tidak ketinggalan, mereka sibuk membawa karung-karung padi yang sudah dipanen untuk langsung dijual di tengkulak atau dikeringkan dahulu di tempat penampungan beras. Udara segar pun menyergap kami sejak berangkat dari rumah tadi. Udara yang masih asri, berbeda sekali dengan udara di Jakarta yang sudah semrawud dengan hiruk pikuk kemajuan industri. Tak ayal bila kota Jakarta tidak lagi seasri dahulu ketika aku kecil.

Langkah kami kemudian memasuki deretan pohon-pohon, jalanan menuju bukit kasih tampak mulai menanjak, namun penduduk di kampung ini sudah membuatkan anakan-anakan tangga, walaupun masih menggunakan kayu dan karung dari pasir. Setelah sampai di atas Bukit Kasih, kulihat bukit itu sudah mendapat beberapa pengunjung. Mungkin anak-anak muda yang ada di daerah ini. Seperti cerita bibi, cerita tentang bukit kasih tampak dijadikan moment oleh para kaula muda untuk memadu kasih.

Dari atas bukit ini seluruh kampung terlihat dengan jelas, berikut deretan sawah yang membentang beserta jajaran pohon-pohon yang membentang membentuk barisan yang kokoh. Tampak rumah Bibi Irma dan Paman Sukma jelas terlihat dari sini.

Setelah tiba, Sari langsung mengambil posisi yang tepat untuk tugas melukisnya. Tampak ia sudah menyiapkan segala peralatan, dari mulai cat air, kuas dengan berbagai ukuran, kanvas dan dudukan kanvas. Aku membiarkannya sibuk dengan tugasnya, setelah itu aku mulai melangkah mendekati pohon besar yang hanya ada satu di Bukit Kasih. Kuperhatikan dan kuraba kulit pohon dengan seksama. Pohon tua ini penuh dengan guratan-guratan iseng anak-anak muda. Mungkin sebagai tanda ikrar ikatan atau tanda kasih sayang mereka satu sama lain. Mungkin terpengaruh dengan cerita mengenai bukit kasih beserta pohon yang diberi nama asmorobangun ini.

“Rasanya aku pernah melihat pohon ini, tapi dimana ya…?” tanya ku pada diri sendiri.

Namun seketika aku tersadar, pohon ini dan Bukit Kasih ada hubungannya dengan mimpiku serta cerita tentang bukit kasih ini. Tidak lain dan tidak bukan, pohon ini adalah pohon yang sama yang aku lihat dimimpiku. Mimpi yang terus berulang sejak aku menginap di rumah bibi Irma. Jangan-jangan pasangan yang kulihat di mimpi adalah mereka yang…, aku sejenak diam.

“Apa maksud semua?” bisikku dalam hati.

Kemudian aku beralih kepada dua gundukan batu besar di samping pohon tua ini, yang kusadari adalah sebuah makam. Tepatnya makam dua sejoli tersebut merebahkan tubuh mereka di sebuah peristirahatan terakhir mereka. Kulihat dengan seksama dua gundukan batu tersebut tidak bertuliskan sama sekali. Mungkin karena waktu yang membuat batu tersebut terkikis.

Seketika saja aku teringat mimpi tentang kotak yang dikubur sang pria tepat di sebelah kanan pohon. Di dalam mimpi ku, tidak salah lagi tepat disini. Tanpa pikir panjang lagi kulihat di sekelilingku, mencari alat untuk menggali atau sejenisnya. Ternyata beruntung, salah seorang warga yang sedang melintas membawa cangkul yang akan digunakan untuk ke sawah. Setelah izin meminjam dan berjanji untuk mengembalikan, aku langsung menggali tepat di tempat sesuai mimpiku semalam.

Aku menggali dan terus menggali dengan cangkul kayu yang kupegang erat dengan kedua tangan. Tidak ada yang menghalangiku dan tidak ada yang memperhatikanku. Tampak orang-orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Para petani sibuk untuk memanen padi yang telah menguning, para kaula muda sibuk dengan pasangannya masing-masing dan Sari sibuk dengan lukisannya.

Hampir lama aku menggali, kemudian mata cangkul terasa menyentuh sesuatu. Setelah aku perhatikan jelas-jelas ternyata sebuah kotak kayu. Aku meraupnya perlahan dengan kedua tangan, membersihkan kotak itu dari tanah dan batu-batu dengan jari-jariku. Kotak persegi dengan ukiran khas, seperti ukiran batik dan sepertinya tanpa kunci. Kubuka perlahan kotak itu, ternyata kotak itu berisi sebuah gulungan yang terbuat dari kulit kerbau.

Aku buka gulungan itu perlahan, terlihat ukiran huruf jawa kuno. Gulungan itu masih dapatku baca dengan jelas di beberapa bagian awal. Aku memang mengerti tentang tulisan jawa kuno, karena aku memang lulusan salah satu perguruan tinggi negeri yang mempelajari teks kuno khususnya teks jawa kuno. Setelah cukup lama aku mempelajarinya dan sedikit mengartikannya, ternyata gulungan ini berisikan sebuah puisi. Mungkin puisi yang diceritakan oleh bibi Irma. Setelahku artikan aku membacanya perlahan.

“Demi bulan yang bersinar terang

Yang sinarnya menyergap kegelapan malam

Demi birunya langit di waktu pagi

Dan gemericik air di lembah kerinduan

Demi sebongkah cinta dan sebuah pengorbanan

Yang karenanya matahari rela kehilangan sinarnya

Demi sebuah asa yang disemai di hati setiap manusia

Dan nyanyian langit dikala kabut kembali tertidur

Aku rela serahkan cinta di atas segala kesenangan dunia

Kan kubiarkan Dia menari bebas demi cinta yang bergelora

Walau demi itu aku takkan mendapat apa-apa

Dan aku takkan menemukan siapa-siapa“

Sisanya, tulisan selanjutnya tidak terbaca. Kini aku duduk di atas bongkahan batu di sebelah pohon dan kotak itu kugenggam erat dikedua tanganku. Pandangan ku jauh menerawang ke pemandangan yang ada di depanku. Aku bertanya pada diriku, mencari kaitan antara kisah tentang bukit kasih ini dan tentang masalah yang kuhadapi.

Kini tampaknya aku harus jujur pada diriku sendiri, datangnya aku ke rumah Bibi Irma tiga hari yang lalu adalah karena pelarian. Yah…tak bisa ku pungkiri pelarian cinta tepatnya. Sebelumnya aku memang mempunyai masalah terhadap tunanganku. Kini aku memberanikan diri untuk menyelesaikannya dan aku harus mengambil keputusan. Kuambil handphone yang ada di kantong depan celana jeans biruku, kuhubungi Maya tunanganku. Setelah menunggu beberapa detik kini telepon ku tersambung.

 

“Halo May.“

“Halo Mas.“

“Maaf ya soal yang kemarin, kini aku sudah mengambil keputusan. Ya mungkin aku harus sabar menunggu lagi. Kalau kuliah S2 keluar negeri adalah pilihanmu yang terbaik, aku kini lebih memilih untuk menunggu.“

“Mas aku juga minta maaf, aku merasa lebih egois, ingin menang sendiri, tidak memikirkan perasaanmu, Mas.“

“Ya sudah, kalau itu sudah keputusan mu. Aku akan tetap mendukung kamu.“

“Aku janji Mas, akan menjaga kepercayaanmu. Setelah kembali nanti, aku berharap kita bisa menikah Mas.“

“Aku juga berharap hal yang sama. Dan aku juga akan menjaga janji kita yang telah kita ucapkan dahulu.“

Tut…, Tut…, Tut…

 

Telepon tiba-tiba terputus, ternyata baterai telepon ku lupa di charge semalam. Tapi kuharap permasalahannya sudah selesai. Mungkin setelah Maya selesai dengan studinya diluar negeri dia akan memenuhi janjinya. Memang ku akui, menunggu adalah pekerjaan yang tidak mudah seperti kisah tentang Bukit Kasih ini.

Kini hari sudah menjelang sore, tak terasa waktu begitu cepat sampai aku lupa makan siang dan kulihat Sari pun demikian. Ia teramat asyik dengan lukisannya sampai lupa waktu. Aku menghampiri sari yang sudah selesai dengan tugasnya, kulihat hasil lukisannya tidak terlalu jelek. Setelah berbenah dan mengembalikan cangkul yang tadi aku pinjam pada pak tani, kini kami bersiap pulang.

Pemandangan sore di Bukit Kasih kini menakjubkan mata. Kabut yang turun dari gunung yang ada di belakang bukit kini perlahan menyelimuti kami. Kugenggam erat tangan Sari dengan tangan kiriku. Seketika saja, aku menyaksikan mimpiku berulang kembali. Kini mimpi itu hadir nyata didepanku, kulihat sekeliling bukit yang hanya diliputi rumput hijau seketika berubah menjadi deretan-deretan bunga yang indah. Suara cipratan air yang sebelumnya tidak ada kini hadir membelah deretan bunga. Wangi-wangian bunga kini semerbak menyeruak seketika. Persis dibalik deretan bunga aku melihat dua anak manusia berlainan jenis. Keduanya tepat dibawah pohon asmorobangun, melambaikan tangan padaku. Dengan senyumannya, tampak kebahagiaan yang mendalam terpancar ke segala sudut di bukit kasih. Akupun membalas dengan lambaian tangan juga.

 

“Kakak melambai kepada siapa?“ tanya Sari aneh melihat polahku.

“Kakak melambai kepada mimpi kakak.“ Jawabku sambil melemparkan tersenyum padanya.

Tampak Sari semakin bingung dengan jawabanku. Kini aku dapat mengambil suatu pelajaran dari kisah tentang bukit kasih. Kepastian didalam cinta adalah ketidakpastiannya itu sendiri.

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: