Oleh: Hery | 8 Februari 2009

Tanya


question-mark

“Teeeeeeeeeeet.” bunyi panjang bel sekolah, para siswa bergegas keluar dari ruangan dengan langkah pasti. Demikian juga Tiwi dan Hani.

“Duh parah tuh pak Roni.” ucap Hani memulai pembicaraan. “Kenapa ?”, Tanya Tiwi.

“Masa… ulangan PPKn gw dapet 4,5”. “Pasti si botak itu sensi sama gw!, sejak gw kegep tidur di pelajarannya dia.”

Tiwi tersenyum kecil, mata bulat nya terus memandang Hani.

“Tapi tenang Han, lw gak sendirian, anak-anak juga sama kaya lw.”

“Sama apanya?!” Tanya Hani.

“Sama-sama ngantuk pas pelajaran dia.”

“Ha..ha..ha..bisa aja lw!”

Tiwi dan Hani terus berbicara seolah-oleh dunia hanya milik mereka berdua. Kadang tawa mereka turut serta.

“Eh mau pulang naik apa lw?” Tanya Hani.

“Gw paling naik angkot.”

“Kenapa gak naik kereta aja?”

“Iya sich, kalo naik kereta lebih cepet tapi…”

“Iya tapi apa?”

“Tapi gw mau nya bareng sama Erik.”

“Ya ampun Tiwi!, lw masih ngarepin Erik yang udah nolak cinta lw dua kali.

“Tapi, dia cinta sejati gw Han!”

“Masih jaman cinta sejati, hari gini…!”

Gw gak abis pikir sama tiwi. Dia masih mengaharap akan cinta sejati. Mungkin dongeng dan cerita-cerita film telah meracuni nya. Apakah cinta masih ada di dunia ini?. Mungkin dunia mulai lupa akan cinta?. Atau cinta yang sudah melupakan dunia?. Tanya Hani dalam hati.

“Ya udah wi, lw sabar aja, mungkin Erik akan berubah pikiran sama lw, suatu hari nanti.” Hibur Hani.

“Ya udah dech, gw bareng sama lw.”

“Nah gitu donk!” ,”khan gw jadi ada temen buat pulang!”

“Han kenapa lw ngak berfikir buat cari pacar?, gw yakin tampang lw gak jelek-jelek amat.”

“Urusan jodoh itu sich gampang” jawab Hani.

“Atau cowo-cowo Ill feel liat lw.”

“kenapa?, apa yang salah”

“Mau tau?, lw tuch kemana-mana selalu nenteng buku filsafat.”

“Loch, emang nya salah?.” Hani mulai membela diri.

“Ya mungkin, lw dah dianggap stress karena kebanyakan berfilsafat.” Yang kemudian diikuti  dengan tawa.

Hani hanya tersenyum,

Apa benar yang di katakan Tiwi?, atau hanya asumsi yang salah dari banyak orang?. Kenapa banyak orang mengartikan filsafat sebagai hal yang sulit?. Kenapa mereka tidak mau mengenal secara keseluruhan?. Tanya Hani dalam hati kecilnya. Perkataan Tiwi mulai mengguncangan Hani. Seolah guncangan itu menjatuhkan dia dan menguburnya dalam-dalam.

Hani dan Tiwi mulai memasuki stasiun, membeli tiket dan akhirnya menunggu sabar kereta. Lima menit kemudian kereta datang dan tanpa di komando mereka mulai masuk.

“Duch…! Rame banget ya, penuh lagi.” “Beda banget sama kereta Express.” Tiwi mengawali pembicaraan.

“Mungkin sudah takdirnya, kalau Fasilitas kereta Ekonomi dilupakan.” Sahut Hani.

“beda banget sama kereta Express yang nyaman, bersih, ada AC nya lagi, tapi tiket nya mahal.” Tiwi melanjutkan

“Ekonomi, lw tau sendiri Han, penuh, kotor, dan banyak copet pula.”

“Mungkin sudah nasib orang kaya  mendapat fasilitas yang paling utama, yang tak akan terjangkau oleh orang miskin.”

“Duh kamu ini Han, jangan pesimis gitu donk.” Tiwi menghibur.

Kereta Ekonomi itu terus melaju, walau pun sudah renta dan jendela nya sudah banyak yang pecah, ia masih setia mengangkut kaum terpinggirkan. Kaum yang hanya bisa berteriak kesakitan tanpa bisa mendapatkan memperjuangkan hak-hak mereka yang telah direnggut oleh para koruptor busuk negeri ini.

Tiwi dan Hani terus berbicara, sampai Hani melihat satu kejadian yang mencuri perhatiannya.

“Eh wi, lw dech anak itu, masih kecil kok ngemis, siapa yang ngajarin ya?”

“Mungkin ibu sama bapak nya, kasian juga ya anak itu, Tapi kalo kita kasih dia uang berarti kita ngajarin kalo ngemis itu perbuatan baik.” Ujar TIwi.

“Trus yang salah siapa dong?!, Anak itu karena dia mengemis?. Orang tuanya, karena  salah mendidik?. Pemerintah  kerena lalai dari tanggung jawab?. Ataukah Tuhan yang menakdirkan anak itu menjadi miskin?.”

Pertanyaan Hani membuat Tiwi diam seribu bahasa. Diam mungkin itulah yang menjadi pelarian Tiwi atas pertanyaan Hani.

“Eh Han, kayak nya gw harus turun nich!, besok kita lanjutin aja obrolan kita yach.”

Kereta mulai berjalan lambat, Tiwi turun beserta penumpang lain. Dengan lambaian tangannya menyambut kepergian Hani. Hani pun membalasnya dengan senyum bibirnya yang merah.

Selang berapa menit kemudian, kini gantian Hani yang turun dari kereta dan berjalan perlahan keluar stasiun. Dia melangkah di jalan yang sempit menuju rumah nya, yang masih berjarak 2 km dari stasiun. Dia berjalan sambil berfikir, kenapa miskin dan kaya harus ada?. Kenapa Orang miskin tidak berhak untuk pintar?. Banyak anak yang  harus berhenti sekolah karena tak punya biaya, padahal mereka berhak untuk mendapat pendidikan yang layak. Kenapa di dunia ini ada si Kaya dan si Miskin?.Padahal manusia diciptakan Tuhan dengan derajat yang sama?. Apakah manusia hanya dijadikan pemuas hati Tuhan semata?, ataukah Tuhan hendak menyeleksi siapa hambanya yang berkualitas?. Hamba yang akan mengamalkan hartanya jika ia kaya, dan bersabar jika ia miskin. Hani pun terus melangkah di jalan yang mungkin membawa ia pada tujuan yang benar atau akan berakhir pada tujuan yang membuat Hani tersesat.

Sungguh, Hani tersadar bahwa ia sedang tersesat dijalan yang benar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: