Oleh: Hery | 8 Februari 2009

Dari Hati Untuk Cinta


Love Touch

Nama ku adalah Ken Prasetya, panggilan Ken. Aku adalah mahasiswa di salah satu Universitas terkemuka di Indonesia. Setiap hari seperti kebanyakan mahasiswa yang memilih tinggal di asrama, aku harus bangun pagi. Hari ini aku ada kuliah jam 9 pagi. Dengan langkah yang pasti aku bersiap pergi untuk kuliah. Setelah menyiapkan buku yang di perlukan. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke Fakultas Sastra. Kebetulan aku mengambil jurusan Sastra Indonesia. Entah karena kecintaan ku kepada karya sastra atau karena sewaktu di SMU aku selalu mendapat nilai bagus dalam pelajaran bahasa Indonesia, yang pasti aku cukup yakin untuk mendalami sastra Indonesia. Sesampainya di depan fakultas Sastra, ku dapati teman ku Rini, dia adalah salah satu teman di jurusan ku. Ku lihat ia mengenakan kemeja putih, jelana jeans biru lengkap dengan beberapa buku di dekapan tangannya. Kusapa ia dengan penuh antusia.

“pagi rini ku, lw kelihatan tambah cantik deh”

“pagi ken, ah bisa aja”, jawab rini

“sekarang kita di ruang berapa ya?”

“di ruang 4206, eh udah ngumpulin paper blum”

“paper yang mana?”

“itu loh yang disuruh pak mardi buat meringkas sejarah kebudayaan Indonesia, jangan bilang lu lupa”, dengan mata yang tajam, rini melemparkan pandangan ke arah ku.

“duh mampus gw, bisa gak lulus nich”.

“jangan bilang kalo lw mau ke perpus bwat nyari bahan trus minta gw bwat absenin lw”

“yah rin, sekali ini aja ya, besok gw traktir dech” bujuk ku pada rini

“seminggu yang lalu juga lw janji sama gw, buat traktir gw di warung pak somat, tapi sekarang gak di tepatin”

“iya dech rin lw menang, nanti gw traktir lw dobel” rayu ku pada rini.

“tapi gw gak mau di warung pak somat, gw mau nya di restoran steak depan kampus”

“yah, pemerasan, nanti gue gak bisa beli buku”

“itu urusan lw, bukan urusan gw”

“ya udah, gw setuju”

Ketika sampai di persimpangan koridor, aku berpisah dengan rini. Aku bergegas berlari ke perpustakaan karena paper paling lambat di kumpul kan hari ini. Setelah sampai di perpustakaan sastra, langsung saja aku mengisi daftar hadir. Ku temui petugas perpustakaan.

“pak, buku strategi kebudayaan karangan van peursen masih ada gak”

“kamu dari jurusan apa?”, Tanya petugas perpustakaan

“Indonesia pak”

“sebentar ya, bapak periksa dulu”

Ku lihat petugas itu sibuk berkutat dengan komputer dan arsip-arsip perpustakaan. Setelah hampir satu menit aku menunggu, akhirnya petugas itu melemparkan pandangannya ke arah ku.

“maaf, stok bukunya sudah di pinjam semua”

“masa sih bukunya gak ada yang sisa satu pun”

“buku nya sudah laku di pinjam sama anak dari jurusan Indonesia, katanya sich buat ngejain paper”

“mampus gw” aku pun langsung lemas, kini aku tak bersemangat untuk kuliah hari ini. sudah di pastikan bila tidak ku kumpulkan tugas paper pasti aku tidak lulus.

Aku langsung melangkah lemas, langkah kaki pun terasa berat di angkat. Ku naiki anak-anak tangga dengan perasaan hampa. Kemudian aku duduki bangku di ruang yang biasanya digunakan untuk baca Koran.

“yah ngulang dech tahun depan, dasar”. Selama hampir setengah jam aku mengumpat pada keadaan. Bodoh nya diri ku, sampe di semester ke 6 ini harus mengulang mata kuliah lagi. Bagaimana dengan tuntutan harus lulus tepat waktu yang di tetapkan oleh orang tua ku. Langit seakan runtuh, bumi seakan terbelah menjadi dua. Rasanya dunia mau kiamat. Ketika beberapa saat aku melemparkan pandangan ke sekeliling perpustakaan, aku mulai mendapatkan harapan. Di ujung bangku perpustakaan ada seorang wanita cantik yang sedang membaca buku strategi kebudayaan. Beruntung sekali nasib ku, Tuhan ternyata masih menyayangi ku. Segera saja dengan langkah yang malu-malu tapi mau, aku menghampiri wanita itu. Sekilas tampak aku sering melihat wajahnya tapi aku tidak begitu akrab dengan nya.

Aku langsung meraih kursi di samping wanita itu, dan langsung menyapa nya.

“hai, lagi baca bukunya van peursen ya?”

Gadis itu berhenti dari konsentrasinya membaca dan mengalihkan konsentrasinya kea rah ku.

“oh, iya soalnya buat materi kuliah”

“kenalan dulu dong, ken dari Indonesia smester 6” aku mulai membuka perkenalan.

“Jen, Inggris smester 4”

“kamu suka baca juga ya?” Tanya ku pada jen

“ah ngak juga, Cuma tuntutan pelajaran” jawab jen yang mulai berkonsentrasi untuk membaca.

“boleh gak aku pinjem bukunya satu hari aja” pinta ku dengan sangat pada jen.

Jen hanya terdiam. Dia masih tenggelam dalam konsentrasinya membaca.

Kemudian kusentuh tangannya yang halus untuk menyadarkannya dan ku ulangi lagi maksud hatiku

“boleh gak aku pinjem bukunya, soalnya penting banget buat bikin tugas”

Jen tersentak, tangannya dengan segera menjauhi tangan ku.

“ya udah, tapi jangan lupa dibalikin ya”

Aku bergegas bangkit dari kursi, langsung saja buku itu ku bawa

Jen langsung berkata “ klo mau balikin taruh aja di rak F 208 ya”

“ thanks ya jen” aku menyahutnya sambil berlari keluar perpustakaan.

*****

Hari berikutnya, aku kembali ke perpustakaan untuk menunaikan kewajiban mengembalikan buku milik jen. Setelah masuk ke perpustakaan, seperti biasa ku titipkan tas ku di loker, mengisi buku kunjungan dan terakhir melemparkan senyum ku kepada penjaga perpustakaan. Setelah itu ku langkah kan kaki ku ke rak F 208, tak lupa ku selipkan secarik kertas ucapan terima kasih ku kepada jen. Berkat kebaikan hatinya aku tidak harus mengulang mata kuliah ku. Ku tulis dalam kertas tersebut

Untuk cinta

Thax ya berkat lw, gw gak musti mengulang mata kuliah ku

Sebagai ucapan terima kasih, lw, gw traktir bakso pak kumis di kantin kampus

Tapi jangan lebih dari 10rb, coz duit kiriman blom turun

Maklum lah mahasiswa

Ha..ha..ha..

Tidak lupa aku selipkan no hp ku, dengan harapan perkenalan ku dengan jen bisa berlanjut ke jalinan yang lebih, entah itu teman atau rekan bisnis aku tidak tahu.

*******

Pagi harinya aku terkejut ketika ku terima sebuah sms dari no yang tidak ku kenal. Setelah aku baca sms tersebut ternyata pengirimnya adalah jen. Dalam sms tersebut dia menyuruh ku untuk membaca surat yang ia selipkan di buku yang pernah ku pinjam dari jen.

*******

Sampainya di perpustakaan dengan semangat yang menggebu-gebu ku langkahkan kaki ku ke lantai 2 perpustakaan. Langsung ku arahkan langkah dengan cepat dan pasti ke rak F 208. Ku temukan dalam buku itu sebuah amplop warna putih dan selembar kertas di dalamnya. Dengan hati yang tak menentu aku langsung membacanya

Dari hati

Gw kaget ketika ada kertas yang lw tulis di buku ini

Dan gw lebih kaget lagi ketika di awal surat tertulis untuk cinta

Mas, nama gw jen, bukan cinta

Tapi seru juga surat lw

Klo soal traktiran kyak nya gw milih mentahnya aja dech

Maklum lah mahasiswa

Eh salah mahasiswi….

*******

Yah begitu lah perkenalan aku dengan jen. Kami masih berkirim surat sampai akhirnya studi ku telah selesai dan aku memutuskan untuk melanjutkan studi ku ke jerman. Mengambil S2 manajemen dengan program beasiswa yang ku dapat.

Hari ini adalah hari terakhir aku ke perpustakaan karena sore harinya aku langsung berangkat ke jerman. Seperti biasanya ketika aku mengunjungi perpustakaan ku langkahkan kaki ku langsung ke F 208, dan berharap jen meninggalkan secarik kertas untuk ku. Langsung saja ku ambil buku strategi kebudayaan, dan duduk di tempat yang biasa ku gunakan untuk membaca kertas jen. Isi kertas tersebut adalah

DARI HATI

Mungkin tidak ada kata-kata yang pantas mewakili perasaan ini

Suatu perasaan yang tak kan lenyap di sini, di hati

Saat ku pandang mata mu yang indah

Saat ku lihat senyum mu yang selalu menghiasi wajah mu

Oh Tuhan, ingin sekali aku memilikinya, memilikimu

Kubayangkan kau dan aku disuatu dunia yang tidak ada rasa sedu dan sedan

Tidak ada lagi kesedihan dan kesengsaraan

Hanya ada kamu, aku, dan anak-anak kita

Ku bayangkan kau dan aku bersandar pada sebuah pohon nyiur yang rindang

Dan kurebahkan wajah ku di bahumu, kasih

Menggenggam tangan mu, membelai rambutmu, dan menikmati senyum mu sepuas hati ku

Kemudian, melihat anak-anak kita yang lucu sedang bermain pasir putih pantai

Sambil berlari-lari kecil mengejar ombak yang sedang menari dengan indahnya

Ingin ku nyatakan suatu rasa

Rasa yang selama ini ku pendam di lubuk hati

Kini kuberanikan diri untuk mengungkapkannya

Kalau aku menginginkan mu karena aku mencintai mu

Maukah engkau menjadi bintang penerang hidup ku

Yang selalu menerangi, menghangatkan, dan menghiasi hati ini

Sudah lama merindukan datang nya sang matahari cinta

Yang selalu akan memberi sinarnya tanpa berharap kembali

Setelah ku baca kertas tersebut tiba-tiba saja badan ku bergetar. Tak kuasa aku menahan getaran tersebut. Seakan seluruh benda-benda angkasa jatuh di kepala ku. Aku tak menyangka jen akan menyukaiku, padahal aku hanya menganggapnya sebagai sahabat baik, tidak lebih. Segera saja ku ambil secarik kertas dan sebuah pulpen, kemudian aku membalas puisi dari jen, serta menceritakan kepergian ku ke jerman. Hanya ada satu harapan ku pada jen, semoga ia bisa mengerti.

Kertas itu berisi

UNTUK CINTA

Cinta, rasanya ingin aku memetikmu dari kebun bunga yang indah

Mencium wangi harum mu adalah impian hidup ku

Akan ku letakkan engkau di tempat terindah kemudian melihat keindahan mu sepanjang hari

Sepanjang waktu ku

Cinta, seandainya waktu memberikan belas kasihnya pada kita

Aku ingin menjadi pakaian mu

Melindungimu, menghangatkanmu, dan memberimu kenyamanan.

Atau jika waktu mulai menyakitimu

Maka kubayangkan diriku membunuh waktu dengan nafsu ku

Agar, aku dan kamu bisa bersama tanpa harus terpisahkan oleh waktu

Cinta, kamu harus mengerti

Cinta itu tak selamanya bahagia

Cinta itu tak selamanya indah

Aku ingin kau relakan aku demi cinta

Aku tak pantas mendapatkan cinta mu yang suci

Lepaskanlah aku, karena cinta tak selamanya harus memiliki

*****

Kini sudah hampir sekitar 30 tahun aku di jerman. Aku menjadi pengusaha yang lumayan sukses dengan beberapa perusahaan yang ku bangun dengan keringat ku sendiri. Aku memilih menghabiskan masa tua ku di Indonesia. ku luangkan waktu ku untuk mengunjungi kampus tercinta, dimana dulu aku menuntut ilmu. Ku langkahkan kaki ku ke perpustakaan. Ketika aku memasukinya, perpustakaan ini jauh berubah ketika terakhir aku tinggalkan. Tidak ada lagi buku-buku di rak, semua sudah berganti dengan komputer. Buku di rak tersebut pun tidak banyak lagi, segera saja aku menuju F 208. kulihat buku itu sudah nampak kusam. Beberapa lembar buku nya pun tampak hilang. Segera saja aku menuju sebuah kursi dan melihat isinya. Ternyata kertas itu masih ada, sudah sekitar 30 tahun, mungkinkah jen membacanya. Segera saja perhatian ku dialihkan oleh seorang wanita seusia ku, sekitar 62 tahun. Ia menggunakan blazer hitam dengan rok hitam.

Ia menegurku

“Ken kau kah itu?”. Sambil memegang buku yang ku pegang

Ku lihat tampak wajah wanita itu tak asing bagi ku

“Jen. Kamu……”

“Ya, aku jen. Aku nunggu kamu”

“Apa yang kamu tunggu dari aku”. Jawab ku pada jen,

Dia masih cantik, secantik yang dulu. Ketika pertama kali aku bertemu dengan jen

menuggu jawaban kamu. Jawab jen sambil menggenggam tangan ku

Jen, kamu hanya mengharapkan angan-angan kosong

Apa maksud mu ken, aku habiskan 30 tahun disini untuk nunggu kamu, nunggu jawaban kamu”

Aku hanya duduk terdiam beberapa saat. Kemudian aku keluarkan sebuah sebuah surat dari rumah sakit, kemudian ku berikan pada jen.

Jen membacanya, nampak pada wajahnya yang keriput diliputi kesedihan. Air mata pun mulai membasahi pipinya.

“Ken kamu jahat sama aku”

“Aku gak pernah bermaksud sama kamu jen”

“Kenapa kamu gak jujur, sejak 30 tahun yang lalu ken”

“jen, butuh beberapa tahun bagimu untuk mengerti”

“Andaikan aku bisa menggantikan mu untuk memikul beban itu ken”

Aku hanya terdiam, membuang jauh wajah ku dari tatapan mata jen yang berkaca-kaca. Aku tidak tega melihatnya terluka.

Selang beberapa menit aku dan jen terdiam, datang seorang anak kecil berusia 6 tahun. Anak itu langsung menjatuhkan diri ke pelukan jen yang sedang menangis. Dan berkata

“nenek kenapa kok nangis”

“ngak, nenek gak nangis” jawab jen sambil menyapu air mata yang jatuh dari pipinya.

“siapa anak ini jen?” tanyaku

“dia cucu ku yang pertama”

“langsung aku berusaha mengangkat anak itu dan menggendongnya

“siapa nama mu anak manis”

“Nama ku Ken kek,” jawab anak tersebut

Kemudian aku lemparkan pandangan ku pada jen yang masih duduk terdiam.

“aku memberikan nama mu padanya, agar aku bisa mencintainya seperti aku mencintaimu”

“nak, kamu memiliki mata yang indah, seindah mata nenek mu”

“janji yah, kamu bakal jagain nenek kamu dengan sepenuh hati”

“iya kek, pasti” jawab nya dengan wajah cerianya

Kemudian aku menurunkannya. Nampak jen sudah bisa menerima keadaanku sekarang.

“jen saat nya aku harus pergi”

“ken mau kah kamu memeluk aku untuk terakhir kalinya”

“yah.” Sahut ku

Kupeluk jen dengan erat nya. Aku masih merasakan jen masih meneteskan air matanya. Hingga aku dapat merasakan air matanya jatuh ke bahuku.

“ken, adakah tempat dimana kita bisa hidup bersama selamanya”

“yah, mungkin suatu saat nanti, entah kehidupan yang akan datang. Bila aku bisa memilih aku akan memilih hidup bersama mu, jen”

Aku lepaskan pelukan jen. Kemudian aku beranjak pergi, yah pergi menuju pintu keluar perpustakaan. Aku harap sekarang jen bisa mengerti, penyakit ini, yah memang penyakit inilah yang menghalangi cinta ku pada jen. Aku memilih untuk menjauh dari jen, karena bila aku bersama jen aku hanya akan menyakitinya. Penyakit kelainan sperma tepatnya. Bila aku menikahi jen maka aku akan menularkan penyakit ini dan akan berakibat jen akan mati. Kesendirian adalah pilihan ku. Aku memilih untuk tidak menikah karena penyakit ini. mungkin ini sudah menjadi jalan hidup ku sebelum aku dilahirkan ke dunia ini. Andai aku bisa memilih, aku akan memilih untuk tidak dilahirkan ke dunia ini. Aku merasakan jalan didepan ku menjadi hitam, gelap, sunyi tanpa suara. “kesunyian cintailah aku, karena engkau lah yang paling mengerti”.


Responses

  1. Two tumbs. . !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: