Oleh: Hery | 8 Februari 2009

Untuk Wanita Yang Suka Berceloteh


Cerita pendek tentang wanita yang suka berceloteh.

Memilih untuk berceloteh daripada mengurus diri sendiri.

Tak pernah sedikitpun terlintas dibenaknya untuk berhenti berceloteh.

Dalam hening saat mata-mata datar lelah memandang.

Telinga tuli mendengar.

Hingga daun bibirnya penuh ludah karena celotehan.

Semua celotehannya itu sampah, bahkan lebih kotor lagi.

Bagaikan sebuah perjalanan panjang diantara dua pilihan.

Memilih jalan menurun atau tersesat ditengah pemakaman.

Dengan pucuk janur kuning yang deras melambai.

Atau kue anggur yang terasa ngilu di gigi.

Dimatanya, kami ini cermin bisu tanpa telinga.

Cermin yang ia ciptakan hanya untuk ia hancurkan.

Dengan pelampiasan hasrat dalam dadanya lewat celotehan.

Dan biarkan sejenak ia puas dengan celotehannya.

Biarkan ia bangga dengan itu…

Hai Kau, wanita yang suka berceloteh.

Berikanlah celotehanmu bahkan sampai anak baru di ujung jalan itu tahu.

Seberapa hinanya kami dan seberapa mulianya engkau dimata mereka.

Akh,..wanita penceloteh.

Buang saja kami ke laut tapi jangan buang kami ke comberan.

Karena air comberan lebih hitam daripada air laut..

Akan kami biarkan engkau kembali ke asalmu.

Membiarkan engkau dipenjara atas kesedihan palsumu.

Dan jangan engkau sekali lagi mengusik kami.

Karena jalan ini adalah pilihanmu bukan pilihan kami.

Membiarkan engkau disudut jalan sebelah kiri.

Dan kami akan segera pergi meninggalkanmu.

Sang Penceloteh

Dari Depok hingga Jagakarsa

13 Desember 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: