Oleh: Hery | 8 Februari 2009

Selamat Datang Generasi Instan


generasi instan=mie instan

Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan tentang keadaan generasi muda indonesia. generasi yang hanya menginginkan kesuksesan tanpa diiringi dengan kerja keras untuk mencapainya. Generasi dengan moral pragmatis semata tanpa mampu menghargai proses pencapaian. Hal tersebut dapat dibuktikan ketika kita melihat berbagai acara televisi yang bertemakan pencarian bakat. Para stasiun televisi berlomba-lomba menampilkan acara yang menarik agar mampu menyedot perhatian masyarakat dengan gegap gempita dan kemewahan acara pencarian bakat tersebut. Walhasil banyak orang dari berbagai kalangan ikut ambil bagian dalam acara tersebut.

Acara pencarian bakat tersebut seperti Dangdut Mania di TPI, Indonesia Idol di RCTI, Mama Mia Show di Indosiar dan berbagai acara di stasiun televisi swasta lain dan acara pencarian bakat dengan peserta anak-anak, seperti Cabe Rawit di TPI dan Idola Cilik di RCTI. Fenomena tersebut bukan tidak berbahaya bagi pembentukan moralitas bangsa Indonesia. Generasi bangsa akan dirangsang untuk mendapatkan tujuannya dengan cara-cara instan tanpa memperdulikan proses dan usaha keras. Dengan gemerlap dan kemewahan yang ditawarkan berbagai ajang pencarian bakat mampu menyihir banyak orang yang kenyataannya dijadikan alat peras untuk mendapatkan keuntungan besar dan mendongkrak rating semata.

Seperti yang diberitakan majalah tempo edisi 26 mei-1 juni 2008, banyak diantara calon artis yang gagal dilahirkan dan bahkan nasibnya lebih buruk lagi. Sepeti kasus Muhammad Safari alias Ian Kasolo finalis Dangdut Mania I, ia harus merelakan uang Rp 28 Juta dan Rumahnya dijual demi untuk membayar hutang-hutangnya. Bayangkan hampir setiap minggu ia menghabiskan uang 5 juta untuk mendongkrak perolehan suaranya yang didasarkan pada perolehan SMS dan selama acara tersebut berlangsung hampir 30 juta uangnya ludes untuk Ngebom sms agar bisa menang. Padahal uang tersebut hasil pinjaman keluarganya kepada rentenir di kampung. Hal yang hampir serupa pun juga dilakukan oleh kontestan-kontestan lain.

Memang setelah mengikuti acara tersebut kehidupan Muhammad Safari berubah, banyak panggilan job-job untuk menyanyi dan mengisi acara. Honor yang ia dapat bisa 500 ribu untuk sekali membawakan lagu. Namun hal itu hanya terjadi beberapa bulan saja, setelah itu ia kembali hidup susah tanpa panggilan job satu pun dan akhirnya ia harus kembali kepada kehidupannya yang sebenarnya dengan mengubur impian-impian untuk menjadi bintang dan artis terkenal.

Lalu apakah hal tersebut bisa digolongkan kedalam kasus penipuan? Dan siapakah yang mestinya bertanggung jawab? Apakah peserta, stasiun televisi, ataukah pemilik acara?. Terlepas dari siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kasus di atas. Yang harus dilakukan masyarakat agar terhindar dari kasus yang menimpa Muhammad Safari dan kontestan-kontestan lain adalah memikirkan kembali setiap ajang pencarian bakat secara logis dan rasional. Bila dirasa ajang pencarian bakat tersebut terlalu muluk-muluk dan menjanjikan sesuatu yang tidak masuk akal maka dapat dipastikan acara tersebut hanya menjual mimpi-mimpi kosong semata.


Responses

  1. Artikel yang kritis🙂

    Cara-cara instan untuk sukses seperti tersebut di atas memang sebaiknya dihapuskan sajalah, sebelum merusak moral generasi bangsa lebih jauh lagi.

    • stuju…!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: