Oleh: Hery | 16 Januari 2010

Sufisme Dalam Pemikiran Jalaludin Rumi Dilihat Dari Sudut Pandang Epistemologi


Mawlana Jalaludin Rumi

Jalaluddin dilahirkan 30 September 1207 di Balkh, kini wilayah Afganistan. Ia Putra Bahauddin Walad, ulama dan mistikus termasyhur, yang diusir dari kota Balkh tatkala ia berumur 12 tahun. Pengusiran itu buntut perbedaan pendapat antara Sultan dan Walad. Keluarga ini kemudian tinggal di Aleppo (Damaskus), dan di situ kebeliaan Jalaluddin diisi oleh guru-guru bahasa Arab yang tersohor. Tak lama di Damakus, keluarga ini pindah ke Laranda, kota di Anatolia Tengah, atas permintaan Sultan Seljuk Alauddin Kaykobad. Jalaludin Rumi adalah seorang teolog yang kemudian karena suatu peristiwa spiritual yang kemudian mengubahnya menjadi seorang penyair mistis.

Dikisahkan di suatu pagi, seorang pandai besi yang juga darwis bernama Shalahuddin Faridun Zarkub menempa besinya. Pukulan itu kontan membuat Rumi menari hingga mencapai keadaan ekstase. Lalu secara spontan dari mulut Rumi mengalir ujaran-ujaran mistis dalam bentuk puisi.

Selanjutnya, Shalahuddin dijadikan Rumi sebagai khalifah (wakil) untuk menggantikan posisi Syams, tempat ia mencurahkan gagasan dan perasaannya. Setelah melembaga, tarian ini sering dilakukan Rumi selepas shalat Isya di jalanan kota Konya, diikuti para darwis lainnya. Acara terakhir biasanya ditutup dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Bagi Rumi menari adalah Cinta. Dan Rumi tak berhenti menari karena ia tak pernah berhenti mencintai Tuhan. Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah berhenti menari, karena dia tak pernah berhenti mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang mencintai jadi yang dicintai

Setelah wafatnya Rumi, tarekat Maulawiyah (beserta ritual samâ’-nya) berlanjut terus di bawah pimpinan Syaikh Husamuddin Hasan bin Muhammad, salah seorang sahabat karibnya, yang juga dijadikan Rumi sebagai khalifah setelah kepergian Shalahuddin. Husamuddin adalah orang yang memberinya dorongan dan inspirasi sehingga lahirlah sebuah karya yang menjadi magnum opus Rumi, yakni Matsnâwî. Kitab ini terdiri dari enam jilid dan berisi 25.000 untaian bait bersajak.

Rumi menyebut samâ’ (Tarian Whirling Dervishes) sebagai simbolisme kosmos, sebuah misteri yang sedang menari. Putaran tubuh adalah tiruan alam raya, seperti planet-planet yang berputar. Posisi tangan yang membentang secara simbolik menunjukkan bahwa hidayah Allah diterima oleh telapak tangan kanan yang terbuka ke atas, lalu disebarkan ke seluruh makhluk oleh tangan kiri. Ini merepresentasikan sebuah penyerahan dan penyatuan dengan Tuhan.

Pemikiran Rumi dalam sufisme dilihat dari sudut pandang epistemologi

Pemikiran Jalaludin Rumi banyak dituangkan dalam lukisan beberapa kejadian yang bersumber dari antusiasme mistis serta inspirasi puitisnya. Filsafat Rumi diilhami oleh gagasan monistik. Dia mengatakan, “Masnawi adalah kedai kesatuan (wahdah); setiap sesuatu yang engkau lihat di sana selain yang maha esa adalah berhala.

Panteisme atau Monisme Sufi meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Hanya satu wujud yang nyata, yang merupakan sumber seluruh keberadaan. Realitas ini dapat dipandang sebagai Tuhan (esensi Tuhan).
  2. Tiada penciptaan dalam waktu. Manifestasi diri Tuhan adalah suatu proses abadi. Meskipun bentuk-bentuk dari alam semesta selalu berubah dan hilang serta secara serempak diperbaharui tanpa istirahat sedetikpun, pada esensinya ia adalah abadi bernama Tuhan. Tidak pernah ada suatu waktu ketika ia belum ada. Karena seluruhnya berada dalam pengetahuan-Nya.
  3. Tuhan adalah imanen, dalam pengertian bahwa dia tampak sebagai aspek yang terbatas dari bentuk-bentuk fenomenal, dan transenden, dalam pengertian bahwa dia adalah realitas absolute yang melampaui dan mengatasi setiap penampakan.
  4. Esensi Tuhan itu tidak diketahui. Tuhan membuat Natur-Nya dapat diketahui oleh kita melalui nama-nama dan atribut-atributnya.

Puisi Jalaludin Rumi

Jiwamu diciptakan di dunia
Hanya untuk menemani jiwaku
Menjelajahi Samudera Kehidupan Sampai akhir

Yang aku butuhkan bukan jasadmu yang fana
Tapi jiwamu untuk kubawa kembali
Dalam keabadian tanpa batas ruang dan waktu

Kamu juga tahu, karena rasa yang sejati
Tak akan pernah bisa diingkari dari hati yang paling dalam

Karena itu berasal dari Samudera Illahi
dan terbebas dari nafsu hewani dan ego . . .
Itu yang disebut Cinta Sejati

Akan kubangunkan jiwamu yang sudah lama tertidur
Supaya tersadar dalam kesadaran Surgawi
Karena aku adalah engkau dan engkau adalah aku

Aku melihat Tuhanku dengan mata dari mata hatiku

Aku berkata, “ Tidak ada keraguan, hanya Engkau yang ada, hanya Engkau, hanya Engkau “

Engkaulah satu-satunya yang memasuki setiap rasa dimanapun di dalam diri ini, karena dimanapun rasa yang kucari di dalamnya ada Diri Mu.

Tidak ada cara untuk mengetahui Diri Mu, dimanapun kami mencarinya, sebab di setiap tempat yang kami temui hanya Diri Mu

Tak akan sanggup aku berkhayal tentang Diri Mu, karena kami tidak mengetahui tentang Mu

Tak ada satu pengetahuanpun yang dapat mengetahui tentang Diri Mu kecuali pengetahuan yang datang dari Diri Mu untuk mengetahuinya

Dalam kehilangan diriku aku melihat Diri Mu dan hanya menemukan Mu, dan semakin ku mencari diriku dalam Diri Mu yang kutemukan hanya Diri Mu.

Kesimpulan

Pemikiran Jalaludin Rumi bersifat Iluminasionisme, yaitu sebagai suatu isme yang memandang bahwa hanya hati dan kalbu serta pensucian jiwa adalah satu-satunya sumber dan media bagi manusia untuk menggapai pengetahuan, makrifat, dan ilmu hakiki terhadap objek-objek dan realitas-realitas eksternal.[1]

Jalaluddin Rumi meletakkan akal dan pengetahuan lahiriah tersebut sebagai pendahuluan dan “jembatan” bagi pengetahuan yang lebih tinggi dan sempurna, akan tetapi bukan sebagai puncak dan kesempurnaan pengetahuan. Rumi tidak mengecam akal dan ilmu-ilmu lahiriah, bahkan memandang wajib untuk dituntut oleh semua orang. Namun, menurutnya, menuntut ilmu-ilmu tersebut dan penguasaan argumen-argumen rasional akan menjadi sangat urgen, penting, dan bermanfaat apabila mendukung pencapaian-pencapaian kesempurnaan manusia, pensucian jiwa, dan pencerahan hati, bukan untuk kebanggaan, kesombongan, kekuasaan, dan kekayaan duniawi, serta pemuasan kebutuhan-kebutuhan jasmani dan syahwat. Penderitaan dan upaya keras dalam mencari ilmu dan pengetahuan hanyalah diarahkan untuk tujuan yang suci dan transenden yakni menggapai kebahagiaan insani dan kesempurnaan Ilahi. Dengan demikian, pengetahuan lahiriah dan akal menempati posisinya tersendiri dan merupakan nikmat-nikmat Tuhan yang mesti dimanfaatkan untuk membantu manusia mencapai kebutuhan-kebutuhan spiritual dan tujuan hakiki penciptaannya, minimalnya sebagai tahapan awal bagi perjalanan kesempurnaan manusia dan pengenalan konsepsional terhadap Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan manifestasi-manifestasi-Nya. [2]

CATATAN KRITIS

Pemikiran Mawlana Jalaludin Rumi bila kita lihat secara mendalam ternyata memang tidak memiliki konsep metode pemikiran. Malahan sebagian orang menganggap bahwa pemikiran Jalaludin Rumi tidak lain sebagai salah satu pemikiran “kegelapan“ dalam arti masih terpengaruhi oleh doktirn-doktrin agama dan agak bersifat mistis. Namun demikian kita dapat mengambil suatu pelajaran dari pemikiran Jalaludin Rumi bahwa Ia menekankan untuk mendapatkan sebuah pengetahuan kita tidak boleh mendewakan rasionalisme dan empirisme sebagai jalan dalam mendapatkan pengetahuan. Dalam hal ini kami melihat bahwa Jalaludi Rumi berusaha menawarkan sebuah alternatif didalam jalan mendapatkan pengetahuan yaitu dengan iluminasi. Dengan jalan iluminasi, menurutnya manusia dapat mendapatkan pengetahuan yang abadi karena datangnya pengetahuan tersebut berasal dari Tuhan dan pengetahuan manusia hanya berfungsi sebagai jembatan dalam upaya memperoleh pengetahuan yang berasal dari Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Ghulam Muhsin Ibrahimi, Qawaid Kulli Falsafi dar Falsafe-ye Islami, jilid kedua, hal. 438.

Jalaluddin Hamayi, Maulawi Nameh, jilid pertama, hal. 494.

Budi, F Haediman, Filsafat Modern: Machiavelli sampai Nietzch. Jakarta, Gramedia, 2004.

http://media.isnet.org/islam/Gibb/Sufi.html

http://media.isnet.org/islam/Gibb/Tarekat.html

http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/TasawufHN4.html

http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/15/1/pustaka-223.html

http://www.haqqanirabbani.asia/whirling-id.html

http://www.haqqanirabbani.asia/heavenonearth-id.html

http://www.wisdoms4all.com/Indonesia/doc/Pustaka/Seri%20Epistemologi/09.htm


[1] Ghulam Muhsin Ibrahimi, Qawaid Kulli Falsafi dar Falsafe-ye Islami, jilid kedua, hal. 438.

[2] Jalaluddin Hamayi, Maulawi Nameh, jilid pertama, hal. 494


Responses

  1. thx for sharing….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: