Oleh: Hery | 16 Januari 2010

The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism By Max Weber


Asal Mula ‘Semangat Kapitalis’

Max Weber mengawali bukunya The Protestant Ethic dengan mengemukakan suatu fakta statistik untuk penjelasan: yaitu fakta bahwa di dalam Eropa modern pemimpin-pemimpin niaga dan para pemilik modal, maupun mereka yang tergolong sebagai buruh terampil tingkat tinggi, terlebih lagi karyawan perusahaan-perusahaan modern yang sangat terlatih dalam bidang teknis dan niaga, kebanyakan adalah pemeluku agama Protestan. Ia menjelaskan bahwa hal tersebut bukanlah fakta kontemporer, akan tetapi merupakan fakta sejarah. Dengan menelusuri kembali kaitannya, bisa diperlihatkan bahwa beberapa pusat awal dari perkembangan kapitalis dipermulaan abad ke-16 merupakan pusat yang sangat kuat dengan unsur Protestan.

Suatu keterangan yang mungkin segera dapat diberikan: keretakan dengan tradisionalisme ekonomi, yang terjadi di pusat-pusat tersebut tadi, menghasilkan suatu penanggalan tradisi pada umumnya dan khususnya mengelupaskan lembaga-lembaga keagamaan dalam bentuk kolotnya. Akan tetapi interpretasi ini tidak dapat dipertahankan, bila diteliti dengan cermat. Adalah keliru sama sekali menganggap reformasi sebagai suatu bentuk pelarian dari pengendalian gereja. Pada kenyataannya, pengawasan dari gereja Katholik atas kehidupan sehari-hari, adalah longgar: perpindahan ke Protestanisme melibatkan penerimaan peraturan perilaku yang lebih luhur tingkatnya daripada peraturan perilaku yang dituntut oleh agama Katholik. Protestanisme menganut suatu sikap yang sangat ketat terhadap hidup santai dan bersenang-senang – suatu fenomena yang sangat ditekankan oleh Calvinisme.

Kaum Marxisme, menegaskan bahwa agama Protestant merupakan suatu refleksi ideologis dari perubahan-perubahan ekonomi yang didatangkan dengan perkembangan awal kapitalisme. Dengan menolak hal ini sebagai suatu titik pengelihatan yang wajar, karya Weber bermula dari keganjilan penyimpangan yang jelas terlihat dan yang diidentifikasinya serta penjelasannya merupakan orisinalitas sebenarnya dari The Protestan Ethic. Biasanya demikianlah bahwa mereka yang hidupnya terpaut dengan kegiatan ekonomi dan dengan pengejaran keuntungan, bersikap acuh tidak acuh terhadap agama, bahkan suka bermusuhan dengan agama, karena kegiatan-kegiatan mereka tertuju pada dunia ‘materiil’. Akan tetapi agama Protestan disiplin yang lebih keras daripada penganut agama Katholik, dan dengan demikian memasukkan suatu faktor keagamaan di semua bidang kehidupan para penganutnya. Dari sini dapat dilihat hubungan antara agama Protestan dengan kapitalisme modern. Bahwa kepercayaan-kepercayaan dalam agama Protestan telah merangsang kegiatan ekonomi.

Uraian tentang keganjilan ini bukan saja menuntut suatu analisis dari isi kepercayaan-kepercayaan agama Protestan serta sesuatu penilaian tentang pengaruhnya terhadap aksi-aksi penganutnya, akan tetapi menuntut juga perincian dari ciri-ciri khas luar biasa kapitalisme Barat modern sebagai suatu bentuk kegiatan ekonomi. Bukan hanya agama Protestan yang berbeda dalam segi-segi penting tertentu dengan bentuk keagamaan yang mendahuluinya, akan tetapi juga kapitalisme modern menampakkan ciri-ciri khas dasar, yang membedakannya dari jenis-jenis kegiatan ekonomi yang mendahuluinya. Berbagai bentuk lain dari kapitalisme yang ditemukan oleh Weber, semuanya didapatkan dalam masyarakat-masyarakat yang ditandai secara khas oleh ‘tradisionalisme ekonomi’. Sikap-sikap terhadap kerja, yang menandai secara khas tradisionalisme, dijelaskan secara grafis, oleh pengalaman majikan-majikan kapitalisme modern, yang telah berusaha memperkenalkan metode-metode produksi kontemporer ke dalam komunitas-komunitas yang belum pernah mengenal metode-metode tersebut sebelumnya.

Bilamana sang majikan, tertarik untuk memperoleh daya upaya yang setinggi-tingginya, memperkenalkan suatu pengupahan menurut satuan hasil kerja, sehingga para pekerja secara potensial dapat meningkatkan pendapatannya jauh di atas penghasilan yang mereka bisa peroleh, seringkali hasil dari cara pengupahan ini, ialah kemunduran jumlah kerja dan bukan kebalikannya. Pekerja tradisional tidak berpikir dalam konteks untuk berusaha meningkatkan upah hariannya setinggi mungkin. Tetapi dia lebih memikirkan berapa banyak pekerjaan yang harus dia lakukan agar bisa memperoleh penghasilan yang bisa menutupi kebutuhan biasanya. Orang tidak secara “alamiah” menghendaki berpenghasilan banyak, akan tetapi dia ingin hidup sebagaimana biasa dia hidup, serta sebagaimana dia sudah terbiasa untuk hidup dan mendapatkan penghasilan sesuai dengan kebutuhan kehidupan biasanya. Jadi tradisionalisme sama sekali bertolak belakang dengan ketamakan untuk memperoleh kekayaan.

Weber juga berpendapat bahwa, keserakahan pribadi terdapat di semua masyarakat, dan dalam kenyataan keserakahan itu lebih menjadi ciri khas dari masyarakat pra-kapitalis dari pada masyarakat kapitalis. Kapitalisme modern, pada kenyataannya bukan didasarkan atas pengejaran keuntungan yang tidak bermoral, akan tetapi berdasarkan kewajiban bekerja dengan disiplin sebagai suatu tugas. Weber mengidentifikasikan segi-segi utama dari ‘semangat’ kapitalisme modern sebagai berikut:

Semangat kapitalisme modern, ditandai dengan secara khas oleh suatu kombinasi unik dari ketaatan kepada usaha memperoleh kekayaan dengan melakukan kegiatan ekonomi yang halal, sehingga berusaha menghindari pemanfaatan penghasilan ini untuk kenikmatan pribadi semata-mata. Hal ini berakar dalam suatu kepercayaan atas penyelesaian secara efisien, sebagai suatu kewajiban dan kebajikan.

Semangat Kapitalisme tidak bisa begitu saja disimpulkan dari pertumbuhan rasionalisme dalam keseluruhannya di dalam masyarakat barat. Cara penganalisisan masalah demikian itu cenderung untuk mengasumsi adanya perkembangan rasionalisme yang progresif dan unilinear dalam kenyataannya, rasionalisme berbagai lembaga masyarakat barat menampakkan suatu distribusi yang tidak merata. Negara-negara misalnya di mana rasionalisasi ekonomi telah berlangsung lebih jauh, dalam kaitannya dengan ajaran hukum, berada dalam keadaan terbelakang, bila dibandingkan dengan beberapa negara yang ekonominya lebih terbelakang (Inggris dalam hal ini merupakan kasus yang paling jelas). Rasionalisasi adalah suatu fenomena yang rumit, yang mengambil sekian banyak bentuk, dan berkembang secara beraneka ragam di bidang-bidang yang berlainan di dalam kehidupan sosial. The Protestan Ethic hanya menaruh perhatian pada usaha menemukan karya intelektual siapakah bentuk konkrit khusus dari pikiran rasional itu, darimana berasal gagasan suatu panggilan dan pencurahan tenaga dan perhatian kepada kerja yang ada dalam panggilan itu…[1]

Menurut Weber, konsepsi ‘panggilan’ baru timbul sewaktu terselenggaranya reformasi. ‘Panggilan’ ini tidak ditemui ataupun tidak ada padanannya di dalam agama Katholik atau di zaman purba. Arti penting dari gagasan panggilan, dan caranya diterapkan dalam kepercayaan-kepercayaan Protestan, ialah bahwa panggilan berfungsi membuat urusan-urusan biasa dari kehidupan sehari-hari berada dalam pengaruh agama disegala aspek. Panggilan bagi seseorang adalah untuk melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dengan cara perilaku yang bermoral dalam kehidupan sehari-harinya. Hal ini mendorong penitikberatan agama Protestan yang jauh berbeda dari ideal Katholik tentang pengasingan biara-biara yang menolak pengejaran segala persoalan duniawi yang sementara saja sifatnya.

Pengaruh Agama Ascetis Protestanisme

Weber membedakan empat aliran utama dari agama Protestan ascetic yaitu: Calvinisme, Metodisme, Pietisme dan sekte Baptis. Bagian penting dalam analisa Weber, terpusat kepada Calvinisme. Ia lebih menitikberatkan kepada doktrin-doktrin yang diwujudkan dalam ajaran-ajaran kaum Calvin yang terjadi pada akhir abad ke-16 dan abad ke-17. Weber kemudian melanjutkan mengidentifikasi tiga ajaran utama yang sangat penting dalam Calivinisme yaitu:

  1. Doktrin yang mengajarkan bahwa alam semesta ini diciptakan untuk lebih meningkatkan keagungan Tuhan yang hanya mempunyai arti jika dikaitkan dengan maksud-maksud Tuhan. Tuhan itu tidak ada demi manusia, tetapi manusia itu ada demi kepentingan Tuhan.
  2. Prinsip bahwa maksud-maksud yang Maha Kuasa, berada di luar jangkauan pengertian manusia. Manusia hanya bisa mengetahui butiran-butiran kecil dari kebenaran Tuhan, bilamana dikehendakinya untuk diketahui oleh manusia.
  3. Percaya kepada nasib yang telah ditakdirkan oleh Tuhan; hanya sedikit orang yang terpilih untuk memperoleh kasih sayang yang abadi. Hal ini merupakan sesuatu yang telah diberikan tanpa bisa diambil kembali dari saat pertama penciptaan; kasih sayang abadi ini tidak terpengaruh oleh kegiatan manusia, karena bila ada anggapan bahwa kegiatan-kegiatan manusia bisa mempengaruhinya maka ini berarti mempunyai pikiran bahwa kegiatan-kegiatan manusia bisa mempengaruhinya, penilaian Tuhan yang kudus.

Weber berargumentasi bahwa akibat dari doktrin ini, terutama point ke tiga maka muncullah dua tanggapan mengenai hal tersebut. Pertama tanggapan bahwa individu harus merasakan sebagai suatu kewajiban untuk menganggap dirinya sebagai yang terpilih: tiap keragu-raguan tentang kepastian pemilihan itu merupakan bukti dari kepercayaan yang tidak sempurna dan oleh karenanya tidak ada kasih sayang. Kedua tanggapan bahwa kegiatan duniawi yang sangat mendalam merupakan sarana yang cocok untuk mengembangkan dan mempertahankan keharusan memilih kepercayaan kepada diri sendiri. Dengan demikian, penyelesaian “karya bajik” menjadi dianggap sebagai suatu ‘tanda’ terpilih – bukannya suatu metode untuk memperoleh keselamatan dalam segi apapun, akan tetapi lebih bersifat penghapusan kesangsian tentang keselamatan.

Weber menjelaskan hal ini, mengacu kepada tulisan-tulisan Richart Baxter. Baxter memperingatkan tentang godaan-godaan kekayaan, akan tetapi menurut Weber, peringatan ini semata-mata ditujukan kepada penggunaan kekayaan untuk menopang cara hidup yang bermalas-malasan dan santai. Malas-malasan dan membuang-buang waktu merupakan dosa yang paling utama. Doktrin ini belum dapat disamakan dengan apa yang dikatakan Franklin “waktu adalah uang,” akan tetapi dalil ini berlaku karena setiap jam disia-siakan berarti hilangnya waktu untuk kerja demi kemuliaan Tuhan. Calvinisme menuntut dari para pemeluknya suatu kehidupan berdisiplin yang masuk akal dan berkesinambungan, dan demikian menghapuskan kemungkinan menyesal dan bertobat untuk dosa-dosa yang dibuat mungkin oleh cara pengakuan dalam agama Katholik. Agama Katholik secara efektif membolehkan suatu sikap hidup yang sembronoo, oleh karena si pemeluk agama itu bisa mengandalakan diri kepada pengetahuan bahwa penengahan lewat pendeta bisa memberikan pembebasan dari akibat-akibat kehilangan moral.

Bagi penganut Calvinisme, kerja di dunia materiil berkaitan dengan penilaian etika positif tertinggi. Memiliki kekayaan tidak memberikan suatu pengecualian apapun kepada seorang dari perintah Tuhan untuk bekerja tekun dan taat dalam panggilannya. Penting sekali dan menentukan bagi analisis Weber, bahwa ciri-ciri khas ini tidak ‘logis’, akan tetapi merupakan akibat-akibat psikologis dari doktrin orisinil mengenai takdir seperti yang dirumuskan oleh Calvin. Dengan demikian asal mula semangat kapitalis harus dicari dalam etika agama, yang paling penting cermat dikembangkan dalam aliran Calvinisme.

The Protestan Ethic dimaksudkan oleh Weber sebagai karya yang bersifat pragmatik. Ada beberapa hal pokok dalam karya Weber dalam The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, bahwa karya ini berisi dukungan semangat kapitalisme adalah suatu yang tidak direncanakan dari etika keagamaan Calvin, dan secara umum dari konsepsi panggilan duniawi, yang menyebabkan agama Protestan memutuskan hubungan dengan pandangan tentang kebiaraan dari agama Katholik. Weber juga dalam karya ini, memperlihatkan bahwa rasionalisasi kehidupan ekonomi, yang menjadi ciri khas dari kapitalisme modern, berkaitan dengan komitmen-komitmen nilai yang tidak rasional.

DAFTAR PUSTAKA

Weber, Max. The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalisme. New York, 1958

Giddens, Anthony. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya-Tulis Marx Durkheim dan Max Weber/ Anthony Giddens; penerjemah, Soeheba Kramadibrata.-  Jakarta: UI-Press, 1986.

Andreski, Stanislav. Max Weber: Kapitalisme, Birokrasi dan Agama/ Stanislav Andreski; penerjemah, Hartono.- Yogyakarta: Tiara Wacana, 1989.


[1] Max Weber, The Protestant Ethic and The Spirit Of Capitalisme [New York: 1958], hlm.78


Responses

  1. saldonya tambah lagi kang

  2. Keren… Thankz for the information… Be Successssssssss!!!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: