Oleh: Hery | 4 Februari 2011

Fenomena Mati Suri


Berdasarkan Pengertian Klinis kematian adalah henti nafas (tidak ada gerak nafas spontan) ditambah henti sirkulasi (jantung) total dengan semua aktivitas otak terhenti, tetapi tidak ireversibel. Kematian adalah kepercayaan Universal dimana manusia secara umum mempunyai suatu kepercayaan spontan terhadap kematian. Kepercayaan itu terdapat pada semua bangsa, bahkan yang paling kuno. Hanya manusialah yang membuat persembahan kepada yang mati dan menguburnya dengan cara-cara khusus. Beberapa suku tertentu bahkan menyediakan alat-alat dan makanan bagi orang yang telah meninggal karena percaya bahwa mereka dapat menggunakannya. Kepercayaan itu mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan tentang pahala dan dosa sesuai dengan perilaku orang yang telah meninggal.

Manusia terdiri dari mind and body. Bila kematian terjadi, hubungan antara tubuh dan jiwa tentu saja tidak bertahan. Maka timbullah pertanyaan besar, mungkinkah manusia mengalami kehidupan bila kesatuan antara tubuh dan jiwa tidak terbentuk? pertanyaan tersebut mulai dapat dijawab dengan paham tradisional. Paham ini mendasarkan diri pada kekuasaan yang khas bagi jiwa, sebagai “roh”. Walaupun segala ide, putusan, dan kehendak kita yang biasa memerlukan gambaran-gambaran dan pengenalan melalui pancaindera agar bisa terwujud, namun ada semacam pengenalan yang tidak langsung memerlukan unsur-unsur itu yaitu pengenalan yang dimiliki oleh jiwa terhadap dirinya sendiri.

Near Death Experience/ Mati Suri

NDE (Near Death Experience) yaitu orang yang pernah mengalami mati suri. Beberapa lagi ada yang menyebutnya NDS (Near Death Survival). Yaitu mereka yang dinyatakan oleh dokter telah mati namun lama kemudian hidup dan sadar kembali. Sangat menarik bila membahas NDE, karena NDE terjadi di seluruh tempat di dunia dan di kebudayaan mana pun. Meskipun bahasa, penggambaran, dan interpretasi atas pengalaman tersebut berbeda, tapi ada satu titik persamaannya.

Secara medis NDE tidak dikenal, karena seseorang dapat dikatakan mati ketika sistem sirkulasi jantung dan aktivitas otak berhenti sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat melakukan aktivitas, bernafas serta kehilangan kesadaran. Sangat mungkin bagi dunia medis ketika sistem sirkulasi jantung berhenti namun aktivitas otak masih bekerja. Selang waktu ketika sistem sirkulasi jantung berhenti sampai sistem sirkulasi jantung bekerja kembali dikarenakan aktivitas otak masih bekerja, inilah yang kemudian disebut NDE serta memungkinkan seseorang mengalami NDE.

Berbagai pengalaman perjalanan eksistensialis serta spiritual dialami oleh orang yang mengalami NDE secara langsung. Berbagai pengalaman kesadaran yang mereka alami, walaupun berbeda secara particular namun terdapat beberapa persamaan yang sama: dalam buku yang ditulis oleh Tammy Cohen (2006) dijabarkan dalam studi terkait NDE bahwa beberapa orang yang mengalami NDE mempunyai pengalaman melihat lorong cahaya, pertemuan dengan ‘Makhluk Penghuni Cahaya’, bertemu dengan orang yang pernah dikenal. Beberapa diantara mereka mempunyai perasaan kuat tengah sekarat, perasaan melebur dengan kosmik, serta perasaan menuju pada sebuah titik.

Pengalaman terhadap NDE sering kali dipengaruhi oleh konsep latar belakang keyakinan, kultur, serta agama yang mengalaminya. Ada yang percaya bahwa NDE merupakan sebuah pengalaman religius yang membuktikan keberadaan tuhan serta ranah spiritualitas manusia, namun banyak juga yang percaya bahwa pengalaman terhadap NDE merupakan bukti ketakutan konsep kematian yang dialami manusia.

Penelitian terhadap NDE belakangan ini gencar diupayakan oleh mereka yang berasal dari kalangan medis. Munculah kemudian beberapa teori mengenai fenomena NDE, salah satu yang popular adalah teori yang diungkapkan oleh ilmuan skeptis yang menyebutkan NDE terjadi karena Ketamine Connection. Ketamine adalah obat yang kuat, yang digunakan sebagai anestesi pada saat operasi. Efek dari ketamine adalah bisa menyebabkan khayalan atau halusinasi, yang bentuknya seperti elemen NDE. Hipotesis yang diajukan adalah otak pasien ketika kondisi kritis mengalami kerusakan sehingga otak memungkinkan menguarkan zat kimia semacam ketamine pada saat seseorang mengalami trauma atau stress yang sangat berat. Hal yang terjadi adalah ketika seseorang kritis maka ketamine tersebut bereaksi sehingga membuatnya berhayal dan berhalusinasi.

Hal yang saya ingin jabarkan dalam tulisan ini bukan NDE yang dilihat dari segi medis neuroscience tetapi NDE yang dilihat dari segi mind-body problem. Hal tersebut walaupun tidak akan memberikan jalan terang tentang NDE namun diharapkan menjadi salah satu radikalisasi diskursus terkait NDE yang penelitian terhadap fenomena tersebut masih berlanjut.

Mind-Body Problem

Permasalahan mind-body seringkali harus dipulangkan kepada gagasan Descartes mengenai dualisme mind dan body. Descartes menggagas bahwa mind dan body adalah dua substansi yang terpisah, independen satu sama lain. Body digambarkan sebagai objek fisik, dalam ruang serta keluasan sedangkan mind tidak mempunyai objek fisik serta tidak berada dalam ruang dan keluasan. pembagian body dan mind yang terpisah kemudian menjadi bahan perdebatan panjang dalam kajian filsafat dan kesadaran. Beberapa pemikir mencoba mengkritik namun ada juga yang mendukung gagasan tersebut. Damasio salah satu pemikir yang menunjukan kesalahan Descartes yang terletak dari pelepasan tindakan kesadaran dari struktur tindakan biologis. Jelas dalam melihat fenomena NDE kita tidak bisa memungkiri permasalahan dikotomi mind dan body tetap menjadi sumbernya.

Menurut saya, NDE dapat dilihat bukan hanya terbatas pada dikotomi semata antara mind dan body. Tapi juga dapat dilihat sebagai bentuk kesatuan antara mind dan body. Body walaupun dalam fenomena NDE dapat dikatakan mati namun kesadaran akan tubuh tetap ada. Pengalaman mengenai panca-indera tetap ada pada orang yang mengalami NDE. Hal ini ada karena adanya body diandaikan sebagai spirit sehingga eksistensi mengenai body tetap ada dan dirasakan pada orang yang mengalami NDE.  Perjalanan body diandaikan sebagai perjalanan spirit dimana orang yang mengalami NDE sadar berada dalam suatu ruang, waktu serta dimensi yang berbeda. Hal tersebutlah yang kemudian disebut sebagai Extended bodies. Sebagai contoh orang buta yang membutuhkan tongkat untuk berjalan. Tongkat bukan merupakan bagian dari tubuhnya, namun dijadikan alat sebagai perpanjangan tubuhnya dalam berjalan. Sehingga antara tubuh dengan tongkat ada kesatuan.

Mind sendiri dalam fenomena NDE, menjadi ruang tersendiri dalam membahas fenomena tersebut. Ketika problem kesadaran menjadi pertanyaan besar dalam fenomena NDE, tentu itu menarik banyak perhatian, apakah kesadaran memang ada ketika NDE? atau justru hanyalah sekedar hayalan atau ilusi efek ketamin? Saya sendiri melihat kesadaran yang ada pada fenomena perjalanan spirit sebagai rekam jejak memori yang hadir dan menunjukkan diri. Sebagaimana disket computer, memori yang ada melakukan flash back terhadap apa yang telah dilakukan oleh seseorang yang mengalami NDE. Flash back tersebut seakan melakukan refleksi terhadap pengalaman-pengalaman yang telah dilalui. Flash back tersebut juga dipengaruhi oleh latar belakang keyakinan, kepercayaan serta kultur yang terbawa pada memori tersebut. Bagi saya fenomena tersebut merupakan sebuah fenomena penyatuan kembali antara diri sebagai subjek berkesadaran dan track record yang ada dengan extended bodies.

Penggambaran orang yang mengalami NDE ketika melihat lorong cahaya, bertemu dengan orang yang dikenal ketika hidup dulu, beberapa mengaku melihat Tuhan dalam cahaya yang terang. Menurut saya, hal tersebut merupakan sebuah fenomena kesadaran akan penyatuan. Penyatuan antara mind dan body sebagai proses awal penyatuan antara mikrokosmos dengan makrokosmos. Yang dihubungkan dengan dialog internal dalam diri subjek  yang dipengaruhi oleh latar belakang keyakinan dan kepercayaan. Sehingga fenomena NDE yang ada selalu identik dengan pengalaman perjalanan spiritual.

 

DAFTAR PUSTAKA

Corazza, Ornela. Near Death Experience: Exploring Mind-Body Connection. New York. Routledge: 2008

Cohen, Tammy. Near Death Experience, Alih bahasa Kania Dewi. Jakarta. Ufuk: 2010

Hidayat, Komaruddin. Psikologi Kematian. Jakarta. Mizan: 2006


Responses

  1. Saya pernah mati suri🙂 tapi saat itu saya bartw berumur 4 bulan. Dan tentunya saya tidak ingat apa-apa tentang itu. Kata keluarga waktu itu saya sudah henti nafas dan jantung, badanpun telah membiru. Dokter juga telah menyatakan “meninggal” sampai mama ku pinsan. Tapi mungkin belum ajal, saya hidup lagi hingga sekarang. Alhamdulillah…

  2. Mati suri hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii serem ahc…

  3. wah seger


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: